Hasil TKA Lampung Rendah, Pembelajaran Hafalan Dinilai Tak Relevan Lagi

Humaniora26 Dilihat

Bandar Lampung (Terdidik.id) — Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa di Provinsi Lampung menunjukkan capaian yang belum memuaskan, khususnya pada mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Rendahnya hasil tersebut memicu sorotan dari kalangan akademisi terhadap pola pembelajaran di sekolah yang dinilai masih bertumpu pada hafalan dan belum melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Berdasarkan data laman resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), rata-rata nilai TKA Matematika siswa Lampung hanya mencapai 34,63 dari 108.600 peserta didik di 1.439 sekolah. Sebanyak 50 persen siswa berada pada kategori kurang, 33,5 persen kategori memadai, 15,5 persen kategori baik, dan hanya 1 persen yang meraih kategori istimewa.

Capaian serupa terjadi pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Dari 108.541 peserta didik, nilai rata-rata hanya mencapai 22,43. Sebanyak 39,8 persen siswa masuk kategori kurang, 42,5 persen kategori memadai, 10,8 persen kategori baik, dan 6,8 persen kategori istimewa.

Pakar Pendidikan Universitas Lampung, Prof Undang Rosidin, menilai rendahnya hasil TKA tersebut tidak dapat dilepaskan dari praktik pembelajaran di sekolah yang masih dominan berorientasi pada hafalan. Menurutnya, guru cenderung menyajikan materi dan asesmen pada level ingatan atau C1 dalam taksonomi Bloom.

“Sebagian besar guru masih terbiasa menyajikan soal asesmen pada level C1 atau hafalan. Sangat sedikit yang melatih siswa pada level pemahaman, penerapan, hingga analisis dan evaluasi yang masuk kategori Higher Order Thinking Skill,” ujar Undang, Sabtu, 17 Januari 2026.

Ia menjelaskan, TKA merupakan asesmen terstandar yang dirancang untuk mengukur penguasaan konsep inti serta kemampuan berpikir tingkat tinggi. Soal-soal TKA, kata dia, tidak lagi menekankan hafalan, melainkan kemampuan berpikir verbal, numerik, logika, dan spasial.

“Jika siswa tidak dilatih berpikir sejak awal, maka ketika menghadapi TKA yang menuntut penalaran, hasilnya tentu tidak optimal. Ini bukan semata persoalan siswa, tetapi proses pembelajaran yang belum sejalan dengan tujuan asesmen,” katanya.

Undang menambahkan, ketidaksinkronan antara pembelajaran di kelas dan model asesmen nasional berpotensi terus berulang jika tidak ada perubahan mendasar dalam metode mengajar. Ia menilai pelatihan guru harus difokuskan pada penguatan pemahaman konsep dan pembelajaran kontekstual, bukan sekadar penyusunan soal.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung, Thomas Amirico, menyebut rendahnya hasil TKA juga dipengaruhi oleh lemahnya kemampuan literasi siswa dalam memahami soal berbasis teks panjang. Menurutnya, siswa belum terbiasa membaca dan menalar soal secara komprehensif.

“Dari hasil TKA terlihat bahwa literasi dan numerasi siswa kita masih rendah. Banyak siswa kesulitan memahami soal-soal panjang sehingga tidak dapat menjawab dengan tepat,” ujar Thomas, Selasa, 13 Januari 2026.

Untuk memperbaiki capaian TKA, Disdikbud Lampung akan memfokuskan penguatan pada tiga mata pelajaran utama, yakni Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia, dengan melibatkan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). MGMP akan dilibatkan dalam pemetaan masalah, penyusunan soal berbasis HOTS, serta evaluasi pembelajaran.

“Soal-soal berbasis HOTS akan diberikan secara rutin kepada siswa kelas 10 dan 11 agar mereka terbiasa melakukan penalaran sebelum menghadapi TKA di kelas 12,” kata Thomas.

Adapun hasil TKA Bahasa Indonesia menunjukkan capaian yang relatif lebih baik. Dari 108.648 peserta didik, nilai rata-rata mencapai 53,81, dengan 41,5 persen siswa berada pada kategori baik dan 39,9 persen kategori istimewa. (MAR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *