Aris Tama Ketua Umum Armada
Di tengah dunia yang semakin kompetitif dan materialistik, satu pertanyaan mendasar kerap luput diajukan: mengapa kemajuan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan kedewasaan manusia? Kita menyaksikan pertumbuhan bisnis, startup, dan inovasi teknologi yang masif, namun bersamaan dengan itu meningkat pula kecemasan, kelelahan mental, hingga krisis makna. Fenomena ini menandakan bahwa persoalan ekonomi modern bukan semata soal sistem, melainkan soal kesadaran manusia yang menggerakkannya.
Dalam konteks inilah gagasan Sosiopreneur: Liber Novus Sadar Kaya. Gagasan ini menawarkan sudut pandang alternatif tentang kewirausahaan—bukan sekadar mesin pencetak laba, tetapi sebagai jalan pertumbuhan batin dan kontribusi sosial yang berakar pada kesadaran.
Dari Wirausaha ke Sosiopreneur
Wirausaha konvensional bertumpu pada logika pasar: membaca peluang, mengejar efisiensi, dan memaksimalkan keuntungan. Pendekatan ini sah dan bahkan diperlukan dalam ekonomi modern. Namun, ketika logika tersebut menjadi satu-satunya orientasi, bisnis berisiko kehilangan dimensi etik dan nuraninya.
Sosiopreneurship hadir sebagai koreksi sekaligus perluasan makna kewirausahaan. Ia tidak menafikan keuntungan, tetapi menempatkannya dalam relasi dengan dampak sosial dan keberlanjutan. Seorang sosiopreneur tidak hanya bertanya berapa laba yang diperoleh, melainkan juga nilai apa yang diciptakan dan jejak sosial apa yang ditinggalkan. Bisnis, dalam kerangka ini, menjadi medium untuk merawat kehidupan, memperkuat komunitas, dan menjawab persoalan sosial.
Liber Novus dan Kesadaran tentang Kekayaan
Inspirasi dari Liber Novus—karya monumental Carl Gustav Jung—memberi kedalaman psikologis pada praktik sosiopreneurship. Dalam Buku Merah tersebut, Jung menempuh perjalanan batin yang intens, berdialog dengan ketidaksadaran demi mencapai keutuhan diri melalui proses yang ia sebut individuasi.
Individuasi adalah proses menjadi diri sendiri secara utuh. Menariknya, banyak persoalan dalam dunia usaha—ambisi berlebihan, ketakutan akan kegagalan, kerakusan, hingga kecemasan finansial—sejatinya berakar pada konflik batin yang belum terintegrasi. Ketika seseorang belum berdamai dengan dirinya, bisnis sering dijadikan arena kompensasi ego.
Dari sinilah lahir gagasan Sadar Kaya. Kekayaan tidak lagi dimaknai semata sebagai akumulasi materi, melainkan sebagai kualitas kesadaran dalam mengelola sumber daya, relasi, dan tanggung jawab.
Dalam perspektif psikologi kedalaman, uang bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol yang memuat makna psikologis dan sosial. Cara seseorang mencari, menggunakan, dan mendistribusikan uang mencerminkan relasinya dengan rasa aman, harga diri, dan makna hidup.
Sosiopreneur yang sadar kaya tidak terjebak dalam mentalitas kelangkaan, tetapi juga tidak terperangkap dalam kerakusan. Ia memandang kekayaan sebagai aliran nilai—mengalir dari kesadaran, diwujudkan dalam karya, dan kembali kepada masyarakat. Dalam pandangan ini, kekayaan bukan tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari relasi yang sehat antara manusia, kerja, dan kehidupan sosial.
Bagi sosiopreneur yang sadar, kerja bukan sekadar alat mencari nafkah, melainkan ruang pertumbuhan batin. Tantangan bisnis dibaca sebagai cermin dinamika diri: kegagalan mengajarkan kerendahan hati, keberhasilan menuntut kedewasaan, dan pertumbuhan mensyaratkan integritas.
Bisnis, dengan demikian, menjadi laku individuasi—jalan panjang untuk menyelaraskan visi personal dengan kebutuhan sosial. Profit tetap penting, tetapi ia berada dalam orbit nilai dan tujuan yang lebih luas, bukan berdiri sebagai pusat semesta.
Menuju Ekonomi yang Lebih Sadar
Di tengah krisis sosial dan ekologis yang kian kompleks, dunia membutuhkan lebih banyak sosiopreneur yang tidak hanya piawai secara strategi, tetapi juga matang secara kesadaran. Model ini tidak menolak mekanisme pasar, tetapi menempatkannya dalam kerangka kemanusiaan.
Gagasan Sosiopreneur: Liber Novus Sadar Kaya mengajak kita meninjau ulang kewirausahaan sebagai bagian dari evolusi kesadaran kolektif. Bahwa ekonomi yang sehat hanya mungkin lahir dari manusia yang utuh—manusia yang tidak sekadar mengejar kekayaan, tetapi memahami maknanya.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi bagaimana membangun bisnis yang besar, melainkan bagaimana membangun manusia yang sadar di baliknya.(**)






