Eva Dwiana Diminta Mundur Jika Tak Bisa Tangani Banjir

Humaniora9 Dilihat

Bandar Lampung (Terdidik.id) — Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (DEMA FDIK) UIN Raden Intan, Muhammad Iman Ibrohim melontarkan kritik keras terhadap Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana menyusul banjir yang melanda sejumlah wilayah kota pada Jumat, 6 Maret 2026.

Boim menilai banjir yang berulang di Kota Bandar Lampung merupakan dampak dari buruknya tata kelola pemerintah daerah.

Menurutnya, selama ini pemerintah kota tidak menunjukkan keseriusan dalam menangani persoalan mendasar perkotaan, termasuk pengelolaan lingkungan dan sistem drainase.

“Terkait banjir, ini dampak dari tata kelola yang buruk. Beberapa kebijakan wali kota justru lebih bersifat seremonial dan jauh dari kebutuhan masyarakat,” kata Boim dalam pernyataannya, Minggu, 8 Maret 2026.

Ia juga menyinggung sejumlah kebijakan pemerintah kota yang dinilai kontroversial dan tidak menyentuh kebutuhan publik.

Salah satu yang disorot adalah polemik program pendidikan SMA Siger yang sempat menjadi perhatian nasional.

Boim menilai kebijakan tersebut mencerminkan arah kebijakan publik yang tidak tepat di tengah berbagai persoalan kota yang belum tertangani.

“Ada kebijakan yang bahkan menjadikan kebijakan publik seperti komoditas di tengah kondisi Bandar Lampung yang masih seberantakan ini,” ujarnya.

Ultimatum untuk Wali Kota

Boim menegaskan mahasiswa telah cukup bersabar melihat berbagai persoalan yang terjadi di Bandar Lampung, mulai dari tata kelola pendidikan hingga persoalan lingkungan.

Karena itu, ia mengultimatum wali kota agar lebih serius menangani persoalan kota.

“Jika wali kota masih tidak jelas dan tidak paham bagaimana mengurus rakyat, lebih baik mundur dari jabatan,” tegasnya.

Ajakan Konsolidasi Gerakan Masyarakat

Lebih jauh, Boim mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk melakukan konsolidasi bersama membahas berbagai persoalan di Kota Bandar Lampung.

Ia bahkan membuka kemungkinan lahirnya gerakan rakyat jika pemerintah tidak menunjukkan langkah konkret.

“Jika tak ada kejelasan dari berbagai masalah di Kota Bandar Lampung ini, saya rasa gerakan rakyat menjadi jawabannya,” katanya.

Diketahui, Banjir di Bandar Lampung terjadi setelah hujan deras mengguyur kota sejak sekitar pukul 14.20 WIB hingga sore hari pada Jumat (6/3).

Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan sejumlah kawasan permukiman dan ruas jalan terendam air, sehingga mengganggu aktivitas warga dan memicu kekhawatiran akan potensi banjir susulan.

Peristiwa ini kembali menambah daftar banjir yang berulang di ibu kota Provinsi Lampung tersebut. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *