Tangkal Isu Negatif, Kemenag Lampung Ajak Madrasah Aktif Isi Medsos dengan Praktik Baik

Humaniora9 Dilihat

Lampung Tengah (Terdidik.id) — Kanwil Kemenag (Humas) — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Dr. Zulkarnain, meminta madrasah dan pondok pesantren lebih aktif mengisi ruang digital dengan informasi positif, prestasi, dan praktik baik pendidikan Islam. Menurut dia, kepercayaan publik terhadap madrasah perlu terus dijaga melalui narasi yang sehat, terbuka, dan membangun.

Hal itu disampaikan Zulkarnain saat membuka Rapat Koordinasi Daerah Bidang Pendidikan Madrasah Kabupaten Lampung Tengah di Pondok Pesantren Darus Sa’adah, Seputih Jaya, Gunung Sugih, Lampung Tengah, Selasa, 19 Mei 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung Herry Setiawan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah Maryan Hasan, jajaran pejabat Kemenag Lampung Tengah, para ketua tim Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Lampung, pengawas madrasah, kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, operator madrasah, serta peserta rakorda.

Dalam arahannya, Zulkarnain mengatakan madrasah dan pondok pesantren menghadapi tantangan besar di tengah derasnya arus informasi. Ia menilai, isu negatif tentang lembaga pendidikan Islam sering kali cepat menyebar melalui media sosial dan dapat memengaruhi persepsi masyarakat.

Kakanwil Kemenag Lampung, Dr Zulkarnain saat membuka Rapat koordinasi daerah bidang pendidikan madrasah di lingkungan Kemenag Lampung Tengah. / Dok Humas Kemenag Lampung

Karena itu, ia meminta seluruh jajaran madrasah tidak pasif. Kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, operator, hingga siswa perlu bersama-sama menampilkan wajah madrasah yang sesungguhnya, yakni lembaga pendidikan yang penuh prestasi, pembinaan karakter, kegiatan keagamaan, inovasi pembelajaran, dan keberhasilan alumni.

“Kita harus bergerak menguasai media sosial. Tampilkan hal-hal baik tentang madrasah dan pondok pesantren. Tampilkan prestasi anak-anak, guru, dan lulusan madrasah,” ujar Zulkarnain.

Menurut dia, madrasah tidak cukup hanya bekerja baik, tetapi juga perlu mengabarkan kerja baik itu kepada masyarakat. Ruang digital, kata Zulkarnain, harus dimanfaatkan sebagai media dakwah, edukasi, dan publikasi kebaikan.

“Kalau madrasah punya prestasi, kabarkan. Kalau ada praktik baik, tampilkan. Jangan biarkan ruang digital hanya diisi narasi yang melemahkan kepercayaan masyarakat,” katanya.

Zulkarnain juga menegaskan bahwa madrasah memiliki keunggulan sebagai lembaga pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama secara komprehensif. Ia mengatakan, tidak ada mata pelajaran umum yang tidak diajarkan di madrasah. Namun, madrasah memiliki nilai tambah karena peserta didik juga mendapatkan pendidikan agama yang lebih mendalam.

Ia menjelaskan, mata pelajaran seperti Al-Qur’an Hadis, Fikih, Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab diajarkan oleh guru sesuai bidangnya. Hal itu, menurut dia, menjadi kekuatan madrasah dalam membentuk generasi yang berilmu sekaligus berakhlak.

“Madrasah memberi bekal yang lengkap. Ilmu umum dapat, ilmu agama juga kuat,” ujar Zulkarnain.

Ia juga menepis pandangan bahwa lulusan madrasah hanya berorientasi menjadi tokoh agama. Menurutnya, banyak alumni madrasah yang berhasil berkiprah sebagai dokter, pejabat, pengusaha, akademisi, profesional, hingga pemimpin di berbagai bidang.

“Madrasah tidak membatasi masa depan anak. Justru madrasah memberi bekal yang lebih lengkap,” katanya.

Selain penguatan citra positif, Zulkarnain menekankan pentingnya peningkatan kompetensi digital guru dan tenaga kependidikan.

Perkembangan teknologi, kata dia, menuntut madrasah mampu beradaptasi, baik dalam pembelajaran, layanan administrasi, maupun pengelolaan data.

Ia menyebut pengalaman pandemi COVID-19 menjadi bukti bahwa guru mampu beradaptasi ketika keadaan menuntut perubahan. Semangat belajar tersebut, menurut dia, harus terus dilanjutkan agar madrasah tidak tertinggal dalam era digital.

“Ke depan, guru madrasah harus terus meningkatkan kemampuan digitalnya. Tantangan pendidikan sekarang bukan hanya mengajar, tetapi juga beradaptasi,” ujarnya.

Zulkarnain turut mengingatkan pentingnya pendidikan yang ramah anak dan bebas dari kekerasan. Ia meminta guru dan kepala madrasah menghindari pola pendidikan yang menyakiti peserta didik, baik secara fisik maupun psikologis.

Menurut dia, setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Karena itu, pendidik tidak boleh mudah memberi label negatif kepada siswa.

“Bisa jadi anak yang hari ini kita anggap biasa saja, kelak justru menjadi orang yang mengangkat derajat orang tua, guru, dan madrasahnya,” kata Zulkarnain.

Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya pengelolaan data yang jujur dan akurat. Data madrasah, menurut Zulkarnain, menjadi dasar penyusunan kebijakan, penyaluran bantuan, serta pembinaan kelembagaan.

Ia secara khusus menyoroti peran operator madrasah dalam menjaga kualitas data. Kepala madrasah diminta memberi perhatian terhadap kerja operator dan memastikan seluruh data yang diinput sesuai dengan kondisi riil.

“Data itu wajah madrasah. Dari data, kebijakan dibuat. Dari data, bantuan bisa tepat sasaran,” katanya.

Zulkarnain juga menekankan pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah atau BOS agar dilakukan secara transparan, akuntabel, dan sesuai ketentuan. Dana tersebut, kata dia, merupakan amanah negara untuk memastikan peserta didik memperoleh layanan pendidikan yang layak dan tidak putus sekolah karena hambatan biaya.

“BOS itu bantuan agar tidak ada lagi anak-anak kita yang putus sekolah. Karena itu, pengelolaannya harus jujur, tertib, dan sesuai aturan,” ujarnya.

Ia berharap Rakorda Bidang Pendidikan Madrasah Kabupaten Lampung Tengah tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga ruang untuk melahirkan langkah nyata dalam memperbaiki tata kelola, memperkuat publikasi, meningkatkan mutu pembelajaran, dan menjaga kepercayaan masyarakat.

“Madrasah harus terus bergerak. Tunjukkan prestasi, kuatkan data, perbaiki layanan, dan jadikan ruang digital sebagai etalase kebaikan madrasah,” ujar Zulkarnain.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, Herry Setiawan, melaporkan Kabupaten Lampung Tengah memiliki 365 madrasah, 44.459 peserta didik, dan 3.415 guru berdasarkan data EMIS dan SIMPATIKA yang tersedia.

Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Lampung, Herry Setyawan saat menyampaikan sambutan. / Dok Humas Kemenag Lampung 

Menurut Herry, jumlah tersebut menunjukkan besarnya potensi madrasah di Lampung Tengah, sekaligus menjadi tantangan dalam memperkuat pembinaan, tata kelola, dan pemerataan layanan pendidikan.

“Dengan jumlah lembaga madrasah yang besar, sebaran wilayah yang luas, serta kuatnya peran madrasah swasta, diperlukan penguatan kebijakan berkelanjutan agar madrasah di Kabupaten Lampung Tengah semakin unggul, ramah, tertib administrasi, dan terintegrasi,” kata Herry.

Herry menambahkan, Kabupaten Lampung Tengah belum mendapatkan alokasi SBSN. Namun, melalui Program Hasil Terbaik Cepat atau PHTC, saat ini sedang berjalan rehabilitasi pada dua madrasah swasta, terdiri atas satu MTs swasta dan satu MA swasta. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *