Membaca Langit, Menulis Laut

Uncategorized3 Dilihat

Prof. Dr. Sudjarwo, MS
Guru Besar Universitas Malahayati

Ada masa ketika rakyat tidak lagi sekadar menjalani hidup, tetapi dipaksa menjadi pembaca tanda-tanda. Harga kebutuhan naik, mereka membaca langit. Lapangan kerja menyempit, mereka menulis laut. Janji perubahan datang silih berganti, tetapi kehidupan sehari-hari tetap menuntut hal yang sama: makan, membayar kebutuhan rumah, menyekolahkan anak, berobat ketika sakit, dan bertahan sampai akhir bulan. Di tengah keadaan negeri yang bergerak cepat, ungkapan “membaca langit, menulis laut” terasa semakin dekat dengan pengalaman masyarakat: dua pekerjaan yang sama-sama melelahkan, tidak akan pernah selesai, dan sering kali tidak menghasilkan kepastian apa-apa.

“Membaca langit” adalah pekerjaan mereka yang terus menunggu arah. Langit berubah warna, tetapi tidak selalu membawa hujan. Demikian pula keadaan ekonomi dan sosial. Berita tentang pertumbuhan ekonomi dapat terdengar menggembirakan, tetapi pertumbuhan yang tercatat dalam angka belum tentu terasa sebagai kelapangan di meja makan. Kehidupan rakyat tidak berlangsung dalam tabel statistik, melainkan di pasar, warung, terminal, pabrik, sawah, sekolah, kantor, dan rumah-rumah kecil. Ketika harga kebutuhan berubah, masyarakat tidak memiliki kemewahan untuk menunggu penjelasan panjang. Mereka langsung menyesuaikan isi dompet dengan isi keranjang belanja.

Ketika pekerjaan semakin kompetitif, ijazah dan keterampilan pun harus terus diperbarui. Teknologi yang seharusnya mempermudah pekerjaan kini menghadirkan pertanyaan baru tentang masa depan tenaga kerja. Kecerdasan buatan, otomatisasi, dan ekonomi digital membuka peluang baru, tetapi pada saat yang sama mengubah jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan. Mereka yang tidak mampu mengikuti perubahan berisiko tertinggal, sedangkan mereka yang mampu beradaptasi harus terus belajar agar tidak kehilangan tempat. Akhirnya, masyarakat bukan hanya bekerja mencari nafkah, tetapi juga bekerja membaca keadaan.

Mereka membaca kebijakan, membaca harga, membaca peluang kerja, membaca perubahan teknologi, bahkan membaca percakapan di media sosial untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Beban itu semakin berat karena informasi datang tanpa henti. Berita baik dan buruk bercampur dalam satu layar. Harapan dapat muncul pagi hari, sementara kekhawatiran datang pada malamnya. Masyarakat akhirnya hidup dalam keadaan berjaga-jaga. Masa depan terasa seperti sesuatu yang harus ditebak setiap hari, bukan sesuatu yang dapat direncanakan dengan tenang.

Sementara itu, “menulis laut” menggambarkan pekerjaan yang tampaknya tidak pernah meninggalkan jejak. Laut terlalu luas untuk ditulisi, dan ombak selalu menghapus tulisan yang baru saja dibuat. Begitulah nasib sebagian perjuangan rakyat. Mereka bekerja keras, tetapi hasilnya habis untuk memenuhi kebutuhan dasar. Mereka menabung, tetapi tabungan dapat tergerus kebutuhan mendadak. Mereka meningkatkan pendidikan, tetapi pekerjaan yang sesuai belum tentu tersedia. Mereka membangun usaha kecil, tetapi modal, daya beli, persaingan, dan perubahan pasar dapat membuat usaha kembali ke titik awal.

Ironinya, seseorang dapat bekerja sepanjang hari tetapi tetap merasa tidak bergerak ke mana-mana. Pendapatan datang dan segera pergi. Kenaikan penghasilan sering diikuti kenaikan biaya hidup. Rumah menjadi semakin sulit dijangkau, pendidikan semakin membutuhkan biaya, dan kebutuhan kesehatan dapat menguras tabungan dalam waktu singkat. Dalam keadaan seperti itu, kerja keras kehilangan maknanya sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Ia berubah menjadi sekadar alat untuk mempertahankan kehidupan agar tidak jatuh lebih dalam.

Karena itu, persoalan negeri bukan hanya mengenai pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengenai bagaimana hasil pertumbuhan tersebut dirasakan secara nyata. Pembangunan tidak cukup dinilai dari banyaknya proyek, tingginya investasi, atau cepatnya perkembangan teknologi. Ukuran yang lebih penting adalah apakah rakyat memperoleh pekerjaan yang layak, pendapatan yang cukup, pendidikan yang dapat dijangkau, pelayanan publik yang baik, serta rasa aman dalam menghadapi masa depan. Kemajuan yang tidak sampai ke kehidupan sehari-hari akan terasa seperti cahaya yang hanya terlihat dari kejauhan.

“Membaca langit, menulis laut” ini bukan hanya sekadar gambaran tentang kelelahan. Ia adalah kritik terhadap keadaan ketika rakyat terlalu lama diminta bersabar, sementara hasil perjuangan belum sepenuhnya menjadi pengalaman hidup. Rakyat tidak menuntut kehidupan tanpa kesulitan, karena kesulitan merupakan bagian dari kehidupan. Yang mereka butuhkan adalah kepastian bahwa kerja keras mempunyai hubungan yang masuk akal dengan kesejahteraan. Mereka membutuhkan kesempatan, bukan sekadar nasihat untuk bertahan. Mereka membutuhkan kebijakan yang terasa dalam kehidupan, bukan hanya indah dalam wacana.

Langit seharusnya dibaca untuk menemukan arah, bukan sekadar menunggu hujan yang tak kunjung turun. Laut seharusnya ditulis untuk meninggalkan jejak, bukan terus-menerus menghapus hasil kerja manusia. Negeri yang sehat adalah negeri yang mampu mengubah kerja keras rakyat menjadi hasil yang dapat mereka rasakan. Sebab pada akhirnya, rakyat tidak ingin selamanya menjadi pembaca tanda dan penulis harapan. Mereka ingin melihat bahwa setiap keringat memiliki arti, setiap usaha memiliki hasil, dan setiap hari yang mereka jalani benar-benar membawa mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Di sanalah pembangunan menemukan maknanya: ketika rakyat tidak lagi sekadar bertahan, tetapi dapat hidup dengan martabat, kepastian, dan harapan yang nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *