Penanganan Karhutla Taman Nasional Way Kambas Harus Berkelanjutan

Humaniora46 Dilihat

Lampung Timur (Terdidik.id) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, memicu perhatian serius dari parlemen. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Hanan A. Rozak, menegaskan bahwa penanganan kawasan konservasi ini tidak boleh berhenti hanya pada tindakan pemadaman api.

​Penegasan tersebut mengemuka saat Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI meninjau Pusat Konservasi Gajah (PKG) TNWK pada Kamis (3/9/2026). Hanan menilai, pemerintah dan pengelola kawasan wajib memprioritaskan langkah pencegahan terpadu serta pemulihan ekosistem yang rusak.

​”Yang harus kita pastikan bukan hanya apinya padam, tetapi bagaimana kebakaran tidak berulang. Kalau setiap tahun kita hanya sibuk memadamkan api, berarti ada persoalan dalam sistem pencegahannya yang harus dievaluasi,” ujar Hanan.

​Pencegahan Dini dan Pemulihan Ekosistem Gajah Sumatra

​Menurut Hanan, kerugian akibat karhutla di TNWK tidak sekadar menghancurkan vegetasi hutan, melainkan merusak ruang hidup serta rantai pakan gajah Sumatra. Oleh sebab itu, Komisi IV DPR RI mendorong pendekatan komprehensif dari hilir hingga ke hulu kawasan.

​Langkah ini mencakup deteksi dini kebakaran, peningkatan kesiapan personel, pemantauan berkala, hingga rencana rehabilitasi lahan yang jelas pascakebakaran. Pihaknya meminta pengelola memetakan jenis tanaman yang akan ditanam kembali serta mekanisme pengawasan agar fungsi ekologis kawasan segera pulih.

Baca juga : Jejak Api di Wilayah Konsesi: Karhutla Lampung Bukan Bencana Alam

​Diskusi lapangan ini turut melibatkan Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, hingga BUMN terkait. Sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam memetakan langkah pemulihan vegetasi habitat satwa yang terancam.

​Pemberdayaan Masyarakat Desa Penyangga sebagai Solusi

​Selain sektor teknis pencegahan, DPR dan pengelola kawasan menyoroti peran vital warga di desa penyangga. Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, menjelaskan bahwa sekitar 3.083 warga lokal kini terlibat aktif dalam kegiatan pembangunan kawasan.

​Sriyanto menekankan bahwa masyarakat sekitar harus merasakan dampak ekonomi positif dari keberadaan taman nasional. Keterlibatan ini diwujudkan melalui pengembangan rumah singgah, kuliner UMKM, hingga budidaya lebah.

Baca juga : Kebakaran Hutan Way Kambas Cermin Bobroknya Mitigasi

​Guna memperkuat benteng pencegahan, Komite Gabungan bersama Kodam XXI/Raden Inten rutin menggelar pelatihan mitigasi karhutla dan memfasilitasi peralatan pemadam (Alkon) bagi warga desa. Saat masyarakat mendapatkan manfaat langsung dari kawasan konservasi, mereka akan secara mandiri menjaga hutan dari ancaman kebakaran dan perusakan.

​Melalui kunjungan kerja yang diikuti 16 anggota lintas fraksi ini, Komisi IV DPR RI berkomitmen mengawal fungsi pengawasan dan anggaran demi memastikan TNWK tetap menjadi benteng perlindungan yang aman bagi gajah Sumatra. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *