Menuju World Class University, Calon Rektor ITERA Tawarkan Transformasi AI dan Riset Global

Humaniora8 Dilihat

Lampung Selatan (Terdidik.id) – Institut Teknologi Sumatera (Itera) memasuki babak baru dalam penentuan nakhoda masa depan. Senat Itera secara resmi menggelar sidang terbuka penyampaian visi, misi, dan program kerja lima bakal calon Rektor periode 2026–2030 pada Senin, 20 April 2026. Forum strategis ini menjadi ajang adu gagasan bagi para profesor terbaik untuk menjawab tantangan disrupsi teknologi dan penguatan peran Itera sebagai motor pembangunan di wilayah Sumatera.

Ketua Senat Itera, Dr. Sunarsih, M.A., dalam pidato pembukaannya menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan panggung untuk menguji integritas dan kapasitas kepemimpinan. Menurutnya, Itera membutuhkan sosok yang mampu melampaui rutinitas demi menghadirkan terobosan nyata. Ia berharap pemimpin baru nantinya memiliki keberanian dalam mengambil keputusan strategis agar kampus ini tetap adaptif dan berdaya saing global.

“Kami ingin menyimak gagasan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, analisis yang tajam, serta implementasi yang terukur,” ujar Dr. Sunarsih di hadapan civitas akademika dan perwakilan kementerian.

Paparan dimulai oleh Prof. Dr. Aswan yang membawa narasi besar mengenai kemandirian dan keunggulan lokal yang mendunia. Ia memproyeksikan Itera sebagai pusat inovasi yang fokus pada potensi strategis daerah seperti ketahanan energi dan mitigasi bencana.

Aswan berkomitmen memperkuat ekosistem akademik yang multidisiplin guna mendorong hilirisasi riset yang aplikatif. Dalam penjelasannya, ia menekankan pentingnya Itera memberikan dampak langsung bagi masyarakat Sumatera melalui kolaborasi lintas sektor.

“ITERA harus mampu menjadi kampus sains dan teknologi yang unggul, mandiri, transparan, adaptif, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegas Prof. Aswan.

Sementara itu, Prof. Elfahmi menawarkan transformasi institusi melalui penguatan ekosistem riset inovatif dan pendidikan yang adaptif. Ia mengusulkan penerapan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang terintegrasi sepenuhnya dengan sistem digital.

Fokus utamanya terletak pada peningkatan infrastruktur laboratorium dan kesejahteraan sumber daya manusia. Elfahmi juga menggagas program ambisius satu program studi satu luaran inovasi guna memicu pertumbuhan startup berbasis riset di lingkungan kampus.

“Pendidikan harus responsif terhadap perubahan zaman, sekaligus tetap menjaga kualitas dan relevansi dengan kebutuhan industri,” ungkap Prof. Elfahmi.

Gagasan berbeda datang dari Prof. Dr. Ir. Fahmi yang menyoroti pentingnya transformasi budaya unggul berkelanjutan. Ia berpendapat bahwa pondasi utama perubahan terletak pada kesiapan mentalitas dan budaya kerja civitas akademika dalam menghadapi kecerdasan buatan (AI).

Fahmi mendorong Itera untuk segera beralih status menjadi Badan Layanan Umum (BLU) agar memiliki fleksibilitas finansial. Melalui inisiatif SUM-Net, ia ingin mengintegrasikan kampus dengan industri dalam sebuah konsorsium inovasi ekoregional.

“Tantangan perguruan tinggi saat ini adalah kemampuan beradaptasi terhadap disrupsi teknologi, kebutuhan industri, dan tuntutan globalisasi,” jelas Prof. Fahmi.

Prof. Ismunandar, Ph.D., melengkapi bursa gagasan dengan visi menjadikan Itera sebagai institut yang terkemuka dan sejahtera pada tahun 2030. Ia membedah empat pilar utama yang mencakup pendidikan masa depan, riset berbasis potensi lokal, pengembangan talenta unggul, dan tata kelola profesional.

Ismunandar optimistis bahwa dengan menyederhanakan birokrasi, produktivitas dosen dan tenaga kependidikan akan meningkat secara signifikan. Ia menekankan bahwa pergeseran paradigma dari kuantitas menuju kualitas adalah kunci utama.

“Visi ini adalah milik bersama sebagai tekad kolektif untuk melompat dari kuadran kuantitas ke kualitas,” tutur Prof. Ismunandar.

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. M. Faiz Syuaib, M.Agr., mengusung slogan “Itera Bijak Berkhidmat”. Dengan rekam jejak panjang di kementerian, ia memposisikan Itera bukan sebagai menara gading, melainkan menara air yang memberikan manfaat luas.

Faiz merancang digitalisasi kampus menuju smart campus yang tetap memegang prinsip ramah lingkungan. Ia berkomitmen mempercepat hilirisasi riset agar inovasi kampus dapat langsung dirasakan manfaatnya secara ekonomi oleh masyarakat luas.

“ITERA tidak boleh sekadar menjadi menara gading, tetapi harus menjadi menara air yang memberi manfaat luas bagi masyarakat,” pungkas Prof. Faiz Syuaib.

Rangkaian pemaparan ini akan berlanjut pada proses penyaringan oleh Senat Itera untuk menentukan tiga nama calon Rektor pada Selasa, 21 April 2026. Ketiga nama terpilih tersebut nantinya segera diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI untuk memasuki tahap pemilihan akhir. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *