Catatan Orang Tua untuk Rumah Sakit di Lampung

Umar Robbani
Orang tua pasien

Selalu ada kejutan di bulan September. Kalau tahun lalu kelahiran Kusala –anak saya– , September tahun ini dia sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Dari urusan anak ini, saya jadi tahu kualitas pelayanan rumah sakit di Bandar Lampung bukan dari kata orang.

Tulisan ini bukan konten promosi apalagi bertujuan menyudutkan pihak mana pun. Ini adalah perspektif orang tua yang anak harus mendapatkan pertolongan. Tulisan ini bisa menjadi refleksi jika pemerintah ingin serius dalam membangun fasilitas layanan kesehatan. Pengalaman ini juga pasti pernah dirasakan orang lain.

Bagian 1

Sekitar pukul 06.10 WIB, Rabu (18/09/26), saya dan istri membawa Kusala ke IGD RS Imanuel. Kondisinya lemas, rewel, dan mulai tidak mau nyusu setelah melawan demam 5 hari di rumah. Sampai di IGD, saya langsung diarahkan ke meja pendaftaran, sementara istri dan anak saya langsung ke bilik. Perawat memberikan termometer untuk memeriksa suhu, sambil mondar-mandir ke bilik lainnya. Tidak langsung pasang infus. Selesai mendaftar saya langsung menyusul ke bilik IGD.

Tak lama, dokter langsung datang. Sekali lagi, tidak langsung pasang infus. Dokter memeriksa Kusala dan mewawancarai kami. Hasil analisanya, Kusala perlu dirawat inap. “Rawat inap ya adeknya,” sambil berjalan kembali ke pos jaga IGD. Dia menghubungi bagian ruangan untuk memastikan ketersediaan kamar.

“Adanya kamar kelas 1, jadi sementara di kelas 1 dulu nanti kalau sudah tersedia di kelas 2 kita pindah ya. Silahkan lapor ke bagian pendaftaran,” jelasnya lalu memberikan surat pengantar untuk ditujukan ke.

Setelah ada kepastian kamar, baru anak saya dipasang infus di tangan kirinya. Lalu, dibawa ke lantai 3 ruang mawar kamar 333. Sebelum akhirnya dipindahkan ke kamar 334 sesuai kelas kepesertaan BPJS kami. Di ruang mawar, selalu ada lebih dari 5 perawat yang berjaga, nurse station tidak pernah kosong. Sesekali hanya ada 2 orang ketika pergantian sift jaga. Selain waktu itu, mereka selalu ada dengan kesibukannya masing-masing.

Kamar kelas 2 berisi 4 bed dengan 1 kamar mandi yang dilengkapi shower air panas dan closed duduk dan wastafel serta kotak sampah khusus B3. Selain di kamar mandi, kotak sampah juga ada di setiap ruangan untuk sampah organik dan non-organik. Juga ada 1 TV led dan kontainer untuk menampung seprai, selimut, atau sarung bantal yang kotor.

Kusala dirawat selama 5 hari. Pukul 05.00 WIB selalu ada petugas yang menawari ganti seprai atau selimut. Disusul kedatangan perawat memberikan termometer untuk memastikan suhu pasien sekitar pukul 06.00 WIB. Dokter juga selalu datang sesuai jadwal, tapi saya lupa tepatnya pukul berapa. Para perawat pun tidak pernah memasang raut wajah judes atau kesal ketika saya berulang kali memanggil untuk memperbaiki infus yang macet.

Drama IGD

Setelah 5 hari semua gejala hilang dan hasil pemeriksaan baik, Kusala pulang Minggu sore (20/09). Tapi, baru tenang sehari, Kusala kembali demam dan suhunya tidak turun meski sudah diberi Paracetamol. Puncaknya tubuhnya kejang di hari Selasa (21/09). Saat itu juga kami langsung membawanya ke rumah sakit.

Kami kembali ke Imanuel. Prosedurnya sama seperti sebelumnya. Sala mendapatkan pertolongan pertama dengan diberikan Paracetamol dari anus. Namun sial, kami tidak mendapatkan kamar. Saya minta dirujuk ke RS Urip Sumoharjo, karena itu yang terdekat dan menurut orang-orang pelayanan cukup baik. Kami kembali naik mobil yang disupiri kakak ipar, karena saya tidak bisa nyetir. Mobil langsung berhenti di depan IGD.

Rupanya IGD penuh dengan pasien. Semua bilik terisi penuh. Di luar bilik, pasien diinfus sambil duduk di kursi. “Salah pilih rujukan” pikirku dalam hati. Jangankan untuk dirawat di bilik, untuk jalan saja sulit karena ramai keluarga pasien yang menunggu juga di dalam IGD. Semua pasien belum ada kepastian kapan mendapatkan kamar untuk rawat inap.

Setelah sekitar 30 menit usai mendaftar, saya dipanggil ke bagian administrasi sementara istri tetap menunggu di ruang IGD sambil memangku Kusala di kursi plastik. Di waktu itu juga, ada petugas yang menghampiri mereka untuk memasang infus dan mengambil sampel darah. Padahal belum ada kepastian kamar rawat inap buat kami. Sebelum saya ke meja admission, kami sudah sepakat agar jangan diinfus sebelum ada kepastian kamar. Jadi upaya itu ditolak istri saya.

Keputusan itu benar, sebab petugas di meja admission menyampaikan semua ruangan penuh dan tidak bisa memberikan kepastian. Jika ingin menjalani rawat inap, maka kami harus menunggu di IGD yang penuh sesak itu. Tak terbayang jika kami menyetujui pemasangan infus.

Saya memilih untuk mencari rumah sakit lain ketimbang menunggu dan berdesakan di IGD. Berdasarkan rute lalu lintas, ada 2 rumah rumah sakit yang paling mudah diakses RS Advent dan RSUD Abdoel Moeloek (RSUDAM). Karena sudah lelah dan waktu hampir maghrib, saya akhirnya memutuskan untuk ke RSUDAM, sebab ada seseorang yang saya kenal sehingga bisa dimintai tolong untuk mendapatkan kamar.

Di IGD tak ada petugas yang menyambut dan mengarahkan jika saya tak bertanya lebih dulu. Lalu istri saya ke ruang anak di IGD, saya ke loket pendaftaran. Beberapa petugas menghampiri ke tempat tidur untuk meminta keterangan. Lagi, mereka langsung hendak memasang infus padahal belum ada kepastian kamar. Namun, karena sempat kontakan dengan kenalan saya untuk dibantu, kami menyetujui pemasangan infus itu. Walhasil, anak saya baru masuk kamar pukul 07.00 wib keesokan harinya.

Kamar, fasilitas, dan layanan

Anak saya dirawat di Kamar 315, Gedung Alamanda lantai 3. Berseberangan dengan kamar 314. Di selasar antara kedua kamar itu ada tempat sampah satu-satunya di ruangan. Tak ada lagi tempat sampah di kamar dan toilet pasien. Kami harus membungkus sampah sendiri dan membuangnya ke luar kamar. Tak ada pemisahan organik dan non-organik.

Kamar tempat anak saya dirawat tersedia 5 tempat tidur. Tanpa bantal dan selimut. Jadi kami harus membawanya sendiri dari rumah. Padahal ini adalah fasilitas mendasar. Apa alasan rumah sakit tidak menyediakan bantal dan selimut. Apa karena kami peserta BPJS kelas 2? Kalau begitu bagaimana nasib pasien kelas 3? Alamak!

Jika dilihat dari instalasinya, sepertinya kamar 315 ini memiliki kapasitas 4 tempat tidur. Sebab ada 1 tempat tidur tidak memiliki instalasi. Pada plafon tepat di atas tempat tidur anak saya terdapat black mold alias jamur hitam yang biasanya muncul di dinding atau plafon lembab. Bayangkan kamar perawatan pasien anak, terdapat black mold. Jamur ini mungkin tampak remeh, tapi seperti yang dikutip dari allodokter.com, jamur ini dapat memapar melalui sentuhan dan udara. Bahayanya jangan ditanya, paparannya dapat mengganggu sistem pernapasan, iritasi kulit, dan infeksi paru. Bahkan paparan dalam waktu panjang bisa menyebabkan gangguan kognitif.

Black mold atau jamur hitam tumbuh di plafon kamar 315 gedung Alamanda.

“Kok bisa sih di rumah sakit ada black mold,” umpat istri kepada saya. Saya hanya bisa membalas dengan tertawa kecil.

Di kamar, Rabu (23/09), anak saya seharian tidak dikunjungi dokter. Hanya dokter koas dan perawat saja yang datang untuk menanyai gejala. Anak saya hanya mendapatkan infus, cairan zink, dan Paracetamol jika suhu tubuhnya kembali naik. Baru Kamis (24/09) dokter yang menangani anak saya datang dan memberikan resep obat-obatan serta vitamin.

Itu pun sempat salah memberikan resep. Di RSUDAM, kita harus menjemput obat-obatan sendiri ke apotek yang berada di lantai 1 gedung Alamanda. Koas memang sempat meminta saya untuk mengambil obat, namun sebelum saya turun dokter keburu datang. Setelah memeriksa dan keluar kamar, salah satu koas kembali menghampiri kami di kamar menyampaikan resep telah diperbarui dan kembali meminta ke bagian farmasi.

Petugas farmasi memberikan saya 2 jenis obat, zink dan obat anti kejang. Ternyata itu resep lama, anak saya tidak perlu lagi obat anti kejang karena tidak lagi demam. Kesalahan itu baru ketahuan ketika ada dokter koas yang mengarahkan mengambil resep. Kami sama-sama terkejut ketika saya bilang sudah diambil dan diberi obat anti kejang dan zink. Terlebih obat itu sudah diminum anak saya. Tak terbayang jika obat itu rupanya berbahaya.

Belum lagi pengunjung yang tidak ada pengawasan. Di malam kedua, pasien sebelah kami kedatangan pengunjung yang baru keluar lewat pukul 22.00 wib. Saya paham, orang sakit butuh dukungan, tapi suara mengobrolnya berisik sekali seperti ngobrol di teras rumah. Bahkan sampai mengajak menginap anak kecil.

Rasanya jomplang sekali dengan pengalaman saya menjaga Kusala di RS Imanuel. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *