34 Organisasi Pemuda Surati PBB, Protes Pengabaian Pemerintah Terkait Darurat Perokok Anak

Humaniora14 Dilihat

Jakarta (Terdidik.id) – Generasi muda Indonesia menempuh langkah diplomasi internasional bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Dunia bertema “Together for health. Stand with science”. Aliansi 34 organisasi kepemudaan di bawah pimpinan Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) mengirimkan Surat Terbuka Berdaulat (Sovereign SOS) kepada Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, dan Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Koalisi ini mengambil langkah tegas setelah menemukan bukti bahwa industri tembakau menyandera kebijakan kesehatan di Indonesia secara sistemik. Sepanjang akhir tahun 2025, hasil investigasi mencatat sedikitnya 266 peristiwa gangguan industri tembakau yang melibatkan lobi terhadap lebih dari 150 pejabat publik. Praktik ini melumpuhkan komitmen pemerintah untuk melindungi anak-anak dari epidemi zat adiktif.

Ketua Umum IYCTC, Manik Marganamahendra, menegaskan bahwa Indonesia tidak akan mencapai visi Indonesia Emas 2045 jika kualitas manusianya terus merosot. “Skor Modal Manusia (Human Capital Index) kita macet di angka 0,54. Artinya, orang muda Indonesia hanya mampu mengeluarkan setengah dari potensi produktivitasnya karena hambatan kesehatan yang sebenarnya bisa kita cegah,” ujar Manik.

Manik juga membongkar ilusi ekonomi dari industri ini. Menurutnya, meskipun pemerintah menerima cukai Rp216 triliun, negara justru menanggung rugi hingga Rp2.755,5 triliun akibat hilangnya waktu produktif karena penyakit rokok. “Kami mengadu ke PBB karena pemerintah menganggap industri ini sebagai aset, bukan ancaman. Padahal hingga hari ini Indonesia belum juga meratifikasi FCTC,” tambahnya.

Kondisi ini semakin parah dengan kehadiran produk nikotin baru yang menyasar anak sekolah melalui klaim keamanan menyesatkan. Advocacy Lead Program IYCTC, Daniel Beltsazar Jacob, menyoroti bahaya rokok elektronik atau vape yang kini mengancam keamanan nasional.

“Industri mengaburkan sains dengan narasi bahwa vape lebih aman. Faktanya, pengguna vape remaja melonjak 10 kali lipat pada 2021. Bahkan, BNN menemukan liquid vape berisi narkoba jenis baru seperti THC dan amfetamin. Ini adalah pintu masuk narkoba bagi remaja,” tutup Daniel. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *