Buah Manis Konservasi: Harimau Sumatera Korban Jerat Lahirkan Dua Bayi

Humaniora14 Dilihat

Bandar Lampung (Terdidik.id) — Kabar membanggakan menyelimuti dunia konservasi satwa di Indonesia. Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung mengumumkan kelahiran dua bayi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) pada 14 Februari 2026. Momen ini bukan sekadar penambahan populasi, melainkan sebuah simbol kemenangan konservasi atas kekejaman perburuan liar.

Kelahiran ini mencatatkan sejarah baru sebagai persalinan pertama Harimau Sumatera dalam kategori ex situ (di luar habitat asli) di Provinsi Lampung. Keberhasilan ini terasa sangat emosional karena kedua induk bayi tersebut merupakan penyintas yang menyandang cacat fisik permanen akibat jerat pemburu liar.

Kisah Haru Kyai Batua dan Sinta

Pasangan induk tangguh ini memiliki masa lalu yang kelam. Kyai Batua, sang jantan, harus kehilangan kaki kanan depannya setelah tim medis melakukan amputasi pasca-penyelamatan dari jerat pemburu di Desa Batu Ampar, Lampung Barat, pada Juli 2019.

Nasib serupa menimpa Sinta, sang betina. Satwa eksotis ini menjadi korban jerat di wilayah Bengkulu pada Desember 2024. Sinta kehilangan kaki kanan belakangnya sebelum akhirnya mendapatkan perawatan intensif dan rumah baru di Lembah Hijau Lampung. Meski masing-masing hanya memiliki tiga kaki fungsional, keduanya mampu beradaptasi dan menjalankan insting alamiah untuk berkembang biak.

Keberhasilan Global Species Management Plan (GSMP)

Komisaris Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung, M. Irwan Nasution, menegaskan bahwa kelahiran ini merupakan bukti nyata efektivitas program pemerintah. Pasangan Kyai Batua (Studbook ID 1886) dan Sinta (Studbook ID 1998) adalah bagian dari program Kementerian Kehutanan melalui Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV tahun 2024/2025.

“Kami melihat ini sebagai bukti nyata keberhasilan program konservasi Harimau Sumatera. Kondisi fisik induk yang tidak sempurna ternyata bukan penghalang bagi kesuksesan reproduksi selama manajemen perawatan dilakukan secara optimal,” ujar Irwan pada Senin, 4 Mei 2026.

Program ini merupakan buah kolaborasi apik antara Lembah Hijau dengan Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI), BKSDA Bengkulu-Lampung, serta Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Edukasi dan Komitmen Masa Depan

Pihak pengelola berharap kehadiran dua bayi harimau ini mampu menggugah kesadaran masyarakat tentang gentingnya ancaman kepunahan satwa liar. Irwan menekankan bahwa dukungan publik sangat penting untuk menghentikan praktik pemasangan jerat di hutan yang merusak ekosistem.

Ke depan, Lembah Hijau berkomitmen memperkuat fasilitas konservasi mereka. Mereka akan menyediakan area yang menyerupai habitat alami guna menjamin pertumbuhan optimal bagi setiap individu Harimau Sumatera yang berada di bawah pengawasan mereka. Upaya kolaboratif tim medis dan penyelamat satwa tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kelangsungan hidup predator puncak kebanggaan Indonesia ini. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *