Prof. Dr. Sudjarwo, MS
Guru besar Universitas Malahayati
Perjalanan ke Jembrana kali ini terasa berbeda. Saya datang bukan hanya untuk melihat generasi. Saya datang untuk melihat kembali waktu. Ada jejak lama yang masih terasa di sepanjang perjalanan. Ada ingatan yang tiba-tiba muncul dari tempat-tempat yang pernah dilewati. Ada Bali yang dulu begitu dekat dengan kehidupan. Bali yang berjalan lebih pelan. Bali yang mengenal batas. Bali yang hidup dari tanah, laut, upacara, dan hubungan antarmanusia.
Hari ini banyak yang berubah. Jalan semakin ramai. Rumah semakin rapat. Tanah semakin mahal. Ruang semakin sempit. Generasi baru tumbuh dengan dunia yang berbeda. Mereka melihat Bali dengan mata yang berbeda. Mereka mengenal teknologi lebih dekat daripada sawah. Mereka mengenal kesempatan lebih luas daripada batas desa. Mereka juga mengenal dunia yang bergerak sangat cepat.
Namun Bali tetap Bali. Pura masih berdiri. Canang masih diletakkan. Upacara masih berjalan. Gamelan masih terdengar. Laut masih membentang. Gunung masih menjadi arah. Semua terlihat seperti biasa. Tetapi sesuatu terasa berbeda. Ada pertanyaan yang tumbuh perlahan. Apakah yang bertahan hanya bentuknya? Apakah jiwanya juga masih sama?
Pertanyaan itu semakin kuat ketika usia membawa kita lebih dekat kepada masa lalu. Generasi kami telah melihat banyak pergantian. Pemerintahan berganti. Kebijakan berubah. Harapan datang. Harapan pergi. Setiap perubahan selalu membawa janji tentang masa depan yang lebih baik.
Kini pengelolaan keuangan negara kembali berganti tangan. Kita tentu berharap ada perbaikan. Kita berharap ekonomi semakin kuat. Kita berharap kehidupan rakyat semakin baik. Kita berharap negeri ini mempunyai arah yang lebih jelas. Tetapi pengalaman mengajarkan satu hal. Pergantian belum tentu perubahan.Nama bisa berganti. Jabatan bisa berganti. Kebijakan bisa berganti. Namun persoalan tetap bisa tinggal di tempat yang sama.
Di sinilah kegelisahan itu muncul. Apakah pertanyaan lama akan mendapatkan jawaban? Ataukah pertanyaan itu hanya akan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya?
Investasi juga datang membawa harapan. Banyak yang datang membawa modal. Banyak yang datang membawa rencana. Banyak yang datang membawa janji pertumbuhan. Negeri ini tentu membutuhkan investasi. Kita membutuhkan pekerjaan. Kita membutuhkan kesempatan. Kita membutuhkan ekonomi yang bergerak.
Namun investasi mempunyai sifat yang sederhana. Ia datang ketika ada peluang. Ia tumbuh ketika ada keuntungan. Ia pergi ketika keuntungan tidak lagi menarik. Lalu apa yang tinggal?
Pertanyaan itu terasa penting bagi sebuah negeri. Lebih penting lagi bagi Bali. Sebab tanah tidak mudah kembali seperti semula. Alam tidak selalu mampu memperbaiki dirinya sendiri. Tradisi tidak selalu mampu bertahan ketika ruang hidupnya berubah. Generasi muda tidak selalu ingin tinggal ketika tanah kelahiran tidak lagi memberikan masa depan.
Kita mungkin terlalu sibuk menghitung pertumbuhan. Kita menghitung investasi. Kita menghitung pembangunan. Kita menghitung nilai tanah. Kita menghitung jumlah wisatawan. Kita menghitung pendapatan. Tetapi siapa yang menghitung rasa kehilangan? Siapa yang menghitung sawah yang hilang? Siapa yang menghitung keluarga yang tercerai karena kebutuhan ekonomi? Siapa yang menghitung anak muda yang pergi karena tidak menemukan ruang untuk hidup di tanah sendiri?
Mungkin kegelisahan generasi tua bukan karena kami menolak perubahan. Kami tahu perubahan adalah bagian dari kehidupan. Kami hanya takut perubahan berjalan tanpa arah. Kami takut kemajuan membuat manusia kehilangan rumahnya sendiri.
Jembrana memberi ruang untuk berpikir tentang semua itu.
Di sana kita masih dapat menemukan Bali yang terasa lebih dekat. Tetapi waktu terus berjalan. Tidak ada yang benar-benar bisa menghentikannya. Generasi akan berganti. Tanah akan berubah. Kota akan tumbuh. Ekonomi akan bergerak. Investasi akan datang dan pergi.
Yang tersisa adalah pilihan. Kita ingin meninggalkan Bali seperti apa? Sebab generasi tua pada akhirnya tidak banyak lagi yang bisa dibawa. Yang tersisa adalah ingatan. Yang tersisa adalah pengalaman. Yang tersisa adalah kegelisahan melihat negeri yang dicintai terus bergerak tanpa selalu jelas menuju ke mana.
Mungkin pertanyaan terbesar bukan apakah Bali akan berubah. Bali pasti berubah. Pertanyaannya adalah apakah perubahan itu masih membawa Bali bersama dirinya. Jembrana hari ini hanya mengingatkan. Masa lalu tidak pernah benar-benar hilang. Ia tinggal di jalan, di tanah, di rumah, di pura, di wajah orang-orang, dan di ingatan mereka yang pernah menjalani hidup lebih sederhana.
Muncul sebuah pertanyaan yang belum selesai: ketika semua investasi datang dan pergi, ketika semua jabatan berganti, ketika semua pembangunan selesai, ketika generasi kami sudah tidak lagi berada di sini, apakah negeri ini masih menjadi rumah bagi mereka yang datang setelah kami. Wallahu a’llam bish-shawab.









