Bandar Lampung (Terdidik.id) – Laboratorium for Democracy Studies (LDS) menegaskan bahwa lingkungan perguruan tinggi merupakan laboratorium demokrasi yang paling strategis. Sebagai “miniatur negara”, kampus menjadi ruang vital bagi mahasiswa untuk melatih praktik berdemokrasi sebelum terjun ke masyarakat luas.
Pernyataan tersebut mengemuka saat LDS hadir sebagai narasumber dalam Pelatihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (PKMTD). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Raden Intan Lampung pada Rabu, 22 April 2026.
Kepala Sekolah LDS, Hariyadi Sudibyo, menekankan pentingnya mahasiswa memahami definisi politik secara jernih. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh apatis terhadap dinamika yang terjadi di ruang publik akademik.
“Mahasiswa sebagai warga kampus seharusnya duduk bersama untuk memahami apa itu definisi politik. Mereka harus berani mengambil peran dalam menentukan posisi di ruang publik demi mencapai kepentingan bersama atau common good,” ujar Hariyadi Sudibyo dalam paparannya di hadapan peserta.
Membangun Politik Etis di Kampus
Pria yang akrab disapa Sudip ini juga menyoroti fenomena aktivitas politik di lingkungan kampus. Ia mendorong mahasiswa untuk menggeser paradigma bahwa politik hanya sekadar perebutan kekuasaan semata. Sebaliknya, politik harus menjadi sarana etis untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur dan kepentingan masyarakat.
LDS meyakini bahwa keberadaan ruang publik yang sehat di kampus akan berkontribusi langsung pada kualitas lulusan. Mahasiswa yang terbiasa berdiskusi secara terbuka dan kritis akan tumbuh menjadi pribadi yang rasional.
“Aktivitas politik yang demokratis di kampus akan melahirkan mahasiswa yang memiliki keberpihakan pada kepentingan rakyat. Ini adalah esensi dari pendidikan politik yang sesungguhnya,” tambah Sudip.
Menjawab Tantangan Kebebasan Berpendapat
Diskusi dalam pelatihan tersebut berlangsung dinamis. Para peserta yang berasal dari berbagai organisasi mahasiswa dan jurusan aktif melontarkan pertanyaan kritis. Isu mengenai tantangan kebebasan berpendapat dan dinamika organisasi mahasiswa menjadi topik yang paling banyak mendapat sorotan.
Melalui partisipasi ini, LDS berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat kesadaran kritis mahasiswa. Penguatan kapasitas kepemimpinan yang berlandaskan nilai demokrasi diharapkan mampu mendorong terciptanya budaya kampus yang lebih partisipatif dan inklusif.
Sesuai dengan semangat kemerdekaan pers dan hak publik untuk tahu, LDS berkomitmen untuk terus mengawal proses pendidikan politik di kalangan generasi muda demi tegaknya supremasi hukum dan hak asasi manusia. (**)









