Wong Pacak, Kito Biso

Sudut Pandang1 Dilihat

Prof. Dr. Sudjarwo, M.Si
Guru Besar Universitas Malahayati

Pada masyarakat berbudaya palembang, terdapat sebuah ungkapan yang sering terdengar dalam percakapan sehari-hari: “Wong pacak kito biso.” Secara sederhana, ungkapan ini mengandung makna bahwa jika orang lain mampu melakukannya, maka kita juga bisa. Namun dalam kehidupan sosial dan politik yang semakin rumit, ungkapan tersebut kerap memperoleh tafsir yang berbeda. Bukan lagi sekadar semangat untuk maju, melainkan gambaran tentang kebiasaan untuk selalu menghadirkan tandingan dalam setiap keadaan. Apa pun yang muncul, akan ada yang melawan. Siapa pun yang berbicara, akan ada yang membantah. Di mana pun dan kapan pun, selalu tersedia pihak yang siap mengambil posisi berseberangan.

Fenomena semacam ini semakin terasa dalam kehidupan masyarakat saat ini. Ketika satu kelompok menyampaikan kritik, kelompok lain segera tampil membela. Ketika ada yang mendukung sebuah kebijakan, muncul pihak yang menolaknya. Ketika ada yang menyuarakan kepentingan rakyat, tidak lama kemudian hadir suara lain yang mengklaim dirinya sebagai pembela rakyat yang sesungguhnya. Akibatnya, ruang publik dipenuhi perdebatan tanpa akhir yang sering kali lebih menonjolkan persaingan daripada pencarian solusi. Bahkan cenderung berubah menjadi kebisingan sosial.

Pada masyarakat yang berbudaya Palembang umumnya, sejak dahulu dikenal memiliki karakter terbuka, tegas, dan gemar berdiskusi. Di warung kopi, di pelataran rumah, hingga di tepian sungai, percakapan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial. Perbedaan pendapat bukan sesuatu yang asing. Bahkan, adu gagasan sering dianggap sebagai cara untuk menemukan jalan terbaik. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan itu berubah menjadi pertentangan yang tidak lagi berorientasi pada kepentingan bersama.

Ungkapan “Wong pacak, kito biso” yang semestinya menjadi dorongan untuk berprestasi sekarang begitu meluasnya sikap ini kemudian bergeser menjadi semangat untuk selalu menyaingi. Jika ada yang membangun, yang lain ingin menunjukkan bahwa mereka juga bisa membangun. Jika ada yang mengkritik, yang lain merasa harus segera menandingi kritik tersebut. Pada akhirnya, energi yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan masalah justru habis untuk mempertahankan posisi masing-masing.

Pada situasi seperti itu, rakyat berada pada posisi yang kebingungan. Mereka menyaksikan berbagai pihak saling mengklaim sebagai pembela kepentingan masyarakat. Setiap kelompok memiliki alasan, data, dan narasi yang terdengar meyakinkan. Namun semakin banyak suara yang berbicara atas nama rakyat, semakin sulit pula bagi rakyat untuk mengetahui siapa yang benar-benar memperjuangkan kebutuhan mereka. Di tengah keramaian perdebatan, suara masyarakat biasa justru tenggelam.

Kebingungan ini semakin terasa ketika persoalan-persoalan mendasar belum juga mendapatkan perhatian yang memadai. Harga kebutuhan yang terus berubah, kesempatan kerja yang terbatas, pendidikan yang masih menghadapi berbagai tantangan, hingga pelayanan publik yang belum merata, bahkan sekarang ditambah lagi dengan haraga BBM yang tinggi; tetap menjadi kenyataan yang dihadapi sehari-hari. Sementara itu, ruang publik lebih sering dipenuhi oleh pertarungan opini yang tidak selalu menyentuh persoalan nyata tersebut.

Masyarakat kecil akhirnya merasakan jarak yang semakin lebar antara mereka dan para pihak yang mengatasnamakan kepentingan rakyat. Mereka menjadi penonton dari pertarungan yang berlangsung tanpa henti. Ketika satu pihak menyerang, pihak lain membela. Ketika satu kelompok mengangkat isu tertentu, kelompok lain menghadirkan isu tandingan. Pola ini berlangsung berulang-ulang hingga menimbulkan kesan bahwa yang terpenting bukanlah menyelesaikan masalah, melainkan memenangkan perdebatan.

Jadi tidak aneh jika hari-hari terakhir ini muncul tandingan di mana-mana. Ada mahasiswa tandingan, ada demo tandingan, ada petugas tandingan, ada petani tandingan, ada MBG tandingan dengan Wajan dan Uang; dan masih banyak lagi tandingan-tandingan lainnya. Tentu kalau dipahami dari kerangka konsep berfikir budaya palembang, hal seperti ini menunjukkan sikap wong pacak, kito biso semakin sahih.

Makna hakiki dari “Wong pacak, kito biso” sesungguhnya bukan tentang siapa yang mampu mengalahkan pihak lain, melainkan keyakinan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk berkontribusi bagi kebaikan bersama. Jika ada yang berhasil memperjuangkan kepentingan masyarakat, maka yang lain seharusnya ikut memperkuat, bukan sekadar mencari celah untuk menandingi. Jika ada solusi yang baik, maka fokus utama adalah bagaimana solusi itu dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Bukan sibuk membuat tandingan hanya sekedar ingin tampil “aku biso”.

Rakyat tidak membutuhkan terlalu banyak pihak yang saling mengklaim sebagai pembela mereka. Yang mereka perlukan adalah kehadiran nyata, perhatian yang tulus, dan kebijakan yang benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari mereka. Sebab ketika semua sibuk bertanding, rakyat berisiko semakin ditinggalkan. Dan ketika rakyat merasa dipinggirkan, maka kepercayaan terhadap berbagai pihak akan terus menurun.

Di tengah keadaan itulah, ungkapan “Wong pacak, kito biso” layak direnungkan kembali. Bukan sebagai simbol persaingan tanpa akhir, tetapi sebagai pengingat bahwa kemampuan terbesar manusia bukan hanya untuk menandingi, melainkan juga untuk memahami, bekerja sama, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Karena pada akhirnya, kemenangan yang paling berarti bukanlah kemenangan atas kelompok lain, melainkan kemenangan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat yang selama ini menunggu untuk benar-benar didengar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *