Dari Pengkritik Menjadi Kucing Istana

Sudut Pandang4 Dilihat

Prof. Dr. Sudjarwo, MS.
Guru Besar Universitas Malahayati

Ada sebuah perumpamaan yang terasa semakin relevan dalam kehidupan politik hari ini: saat anjing berubah menjadi kucing, yang berubah bukan hanya perilakunya, tetapi juga keberaniannya menggonggong. Di luar pagar kekuasaan, suara kritik terdengar lantang. Ia mampu menunjukkan kesalahan, mempertanyakan kebijakan, membela kepentingan rakyat, bahkan berdiri paling depan ketika ketimpangan terjadi. Namun, ketika suatu hari ia masuk ke dalam istana, duduk di ruang kekuasaan, dan menikmati hangatnya karpet kekuasaan, suaranya perlahan mengecil. Gonggongan berubah menjadi dengkuran. Ketegasan berubah menjadi kehati-hatian. Kritik yang dahulu tajam tiba-tiba menjadi pujian yang halus.

Perubahan semacam itu sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Kekuasaan memang memiliki daya tarik yang luar biasa. Ia dapat mengubah cara seseorang melihat dunia, termasuk cara melihat persoalan yang sebelumnya dengan berani ia kritik. Ketika masih berada di luar, ketidakadilan terlihat begitu jelas. Ketika sudah berada di dalam, banyak alasan muncul untuk membenarkan keadaan. Apa yang dahulu disebut sebagai penyimpangan, setelah menjadi bagian dari lingkaran kekuasaan, bisa saja dianggap sebagai kompromi. Apa yang dulu disebut sebagai kelemahan pemerintah, ketika kekuasaan sudah berada dalam genggaman, dapat berubah menjadi sesuatu yang harus dimaklumi demi stabilitas.

Di sinilah ironi itu bermula. Rakyat tidak pernah benar-benar meminta semua orang menjadi penguasa. Rakyat hanya berharap ada orang-orang yang bersedia menjadi suara mereka di dalam ruang kekuasaan. Mereka berharap ketika pintu istana terbuka, suara dari luar pagar ikut masuk ke dalam. Mereka berharap orang yang selama ini berbicara tentang penderitaan rakyat tidak kehilangan keberaniannya setelah mendapatkan tempat di dekat pusat kekuasaan. Sebab, tidak semua rakyat memiliki kesempatan untuk mengetuk pintu kekuasaan. Tidak semua orang memiliki akses kepada pengambil keputusan. Karena itu, mereka menggantungkan harapan kepada orang-orang yang dianggap mampu menjadi jembatan antara rakyat dan penguasa.

Harapan itu menjadi semakin besar ketika seseorang dikenal sebagai pengkritik kekuasaan. Rakyat melihat keberanian sebagai modal penting untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Mereka percaya bahwa seseorang yang dahulu berani mengatakan “tidak” di luar pagar akan tetap mengatakan “tidak” ketika berada di dalam pagar jika memang kebijakan yang diambil tidak berpihak kepada kepentingan publik.

Namun, harapan sering kali berhadapan dengan kenyataan yang pahit. Begitu seseorang masuk ke lingkaran kekuasaan, jarak antara dirinya dan rakyat perlahan melebar. Komunikasi yang dahulu terbuka menjadi terbatas. Kritik yang dahulu mudah disampaikan menjadi penuh pertimbangan. Perhatian kepada suara dari bawah semakin kalah oleh kebutuhan menjaga hubungan dengan mereka yang berada di atas. Pada titik tertentu, orang yang dahulu menjadi penyambung lidah rakyat justru berubah menjadi penjaga kenyamanan kekuasaan.

Perubahan tersebut tentu tidak selalu terjadi karena niat buruk. Kekuasaan memiliki mekanisme yang dapat membuat seseorang perlahan beradaptasi. Ada kepentingan yang harus dijaga, ada kompromi yang harus dilakukan, ada keputusan yang tidak bisa disampaikan secara terbuka, dan ada tekanan untuk mengikuti garis yang sudah ditentukan. Tetapi rakyat tidak melihat semua kerumitan itu. Yang mereka lihat sederhana: dahulu suara itu keras, sekarang sunyi. Dahulu kritik begitu tajam, sekarang pembelaan begitu mudah diberikan.

Masalah terbesar bukan sekadar perubahan sikap seseorang, melainkan hilangnya fungsi kontrol terhadap kekuasaan. Demokrasi membutuhkan kritik sebagaimana tubuh membutuhkan sistem imun. Kritik bukan musuh pemerintahan. Kritik justru dapat menjadi pengingat agar kekuasaan tidak berjalan tanpa batas. Ketika semua orang di dalam lingkaran kekuasaan berbicara dengan nada yang sama, tidak ada lagi cukup banyak suara yang mengingatkan ketika kebijakan mulai menjauh dari kepentingan rakyat.

Rakyat akhirnya merasa seperti ditinggalkan di luar pagar. Mereka pernah ikut memberikan kepercayaan, berharap suara mereka memiliki wakil di dalam. Namun ketika wakil itu sudah berada di balik pagar, pintu justru terasa semakin tertutup. Mereka melihat keputusan dibuat, kebijakan dijalankan, dan perubahan terjadi tanpa merasa dilibatkan. Lebih menyakitkan lagi ketika orang yang dahulu berdiri bersama mereka kini justru meminta mereka memahami keputusan kekuasaan.

Jika anjing yang dahulu menggonggong kemudian berubah menjadi kucing yang jinak setelah masuk istana, rakyat tentu berhak bertanya: untuk siapa sebenarnya keberanian itu dahulu diperlihatkan? Sebab rakyat tidak membutuhkan orang yang hanya pandai mengucapkan kritik ketika berada di luar pagar. Rakyat membutuhkan orang yang, setelah masuk ke dalam pagar, tetap ingat bahwa di luar sana ada jutaan manusia yang menunggu suaranya dibawa masuk. Mereka tidak meminta wakilnya menjadi musuh penguasa, tetapi mereka juga tidak ingin wakilnya kehilangan taring hanya karena telah diberi tempat di meja kekuasaan.

Ironisnya, pagar istana sering kali bukan hanya memisahkan ruang, tetapi juga memisahkan ingatan. Orang yang sudah berada di dalam mudah lupa bagaimana rasanya berdiri di luar. Padahal, kekuasaan seharusnya bukan membuat seseorang lupa kepada mereka yang berada di balik pagar, melainkan memberinya kemampuan yang lebih besar untuk membuka pagar itu. Ketika pagar justru semakin tinggi dan suara rakyat semakin jauh terdengar, maka yang tersisa hanyalah sebuah pemandangan yang getir: mereka yang dahulu berjanji menjadi suara rakyat kini sibuk menjaga ketenangan istana, sementara rakyat tetap berdiri sendiri di luar pagar, menunggu seseorang yang masih berani menggonggong ketika ketidakadilan datang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *