Menimbang Ulang Identitas Simbolik Universitas Lampung

Yulizar Lubay
Fiksionis dan pengasuh teater di UKMF KSS FKIP Unila

“Universitas dibangun oleh kekuatan berpikir, bukan oleh kekuatan fisikal.”

Universitas Lampung (Unila) belum lama memiliki slogan Be Strong yang disertai simbol tangan terkepal. Melalui artikel “Memahami Slogan Unila Be Strong!” (2024), pihak universitas menjelaskan bahwa slogan tersebut lahir sebagai respons terhadap dua momentum besar, yakni pandemi Covid-19 dan krisis kelembagaan pascaoperasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2022. Dari sudut pandang sejarah organisasi, pilihan tersebut dapat dipahami sebagai simbol kebangkitan dan optimisme.

Namun, lebih dari itu, sebuah slogan semestinya bukan hanya berbicara mengenai sejarah kelahirannya. Slogan juga merupakan representasi identitas yang harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Persoalannya kemudian adalah, apakah Be Strong benar-benar mencerminkan hakikat sebuah universitas?

Pertanyaan ini penting diajukan karena identitas bukan sekadar persoalan estetika atau pemasaran. Identitas adalah pesan yang terus-menerus dikirim kepada masyarakat mengenai siapa diri sejati sebuah institusi.

Dalam ilmu semiotika, Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwa setiap tanda terdiri atas penanda (signifier) dan petanda (signified). Penandanya adalah kata Be Strong beserta gambar tangan yang mengepal. Petandanya adalah gagasan tentang kekuatan fisik atau motorik. Akan tetapi, makna tanda tidak berhenti pada definisi kamus. Roland Barthes, ahli semiotika yang lain, menunjukkan bahwa simbol kemudian berkembang menjadi mitos sosial yang dibentuk oleh pengalaman kolektif masyarakat.

Dalam pengalaman sosial hampir di seluruh dunia, tangan mengepal merupakan simbol perlawanan, militansi, kekuatan fisik, solidaritas perjuangan, bahkan konfrontasi. Simbol tersebut banyak dijumpai pada organisasi buruh, organisasi politik, kelompok perjuangan, organisasi kepemudaan, maupun perguruan bela diri. Singkatnya, sulit sekali menemukan universitas-universitas kelas dunia yang menjadikan kepalan tangan sebagai simbol utama identitas akademiknya.

Masalahnya bukan karena simbol itu buruk. Masalahnya adalah terletak pada ketidaksesuaian antara simbol dengan karakter dasar institusi. Universitas bukan organisasi yang bertugas membangun otot. Universitas adalah institusi yang pertama-tama membangun otak (kognisi; intelektual), dan bila mana perlu membangun keduanya secara simultan.

Produk utama universitas bukanlah tenaga, melainkan pengetahuan. Bukan keberanian fisik, melainkan keberanian berpikir. Bukan kemenangan melalui adu kekuatan, melainkan kemenangan melalui argumentasi ilmiah.

Filsuf pendidikan John Dewey sejak awal abad ke-20 menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses rekonstruksi pengalaman melalui aktivitas berpikir. Paulo Freire bahkan menyebut pendidikan sebagai proses membangun kesadaran kritis (critical consciousness). Di dalam tradisi akademik, yang dihargai bukanlah siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling mampu memberikan alasan yang benar. Karena itu, simbol utama perguruan tinggi semestinya merepresentasikan kecerdasan, kebijaksanaan, pencarian kebenaran, dan integritas ilmiah.

Dalam perspektif komunikasi organisasi, slogan merupakan bagian dari corporate identity. Identitas yang efektif harus mampu menjelaskan karakter organisasi hanya melalui satu kalimat pendek.

Ketika seseorang mendengar slogan Harvard, Oxford, MIT, atau Universitas Indonesia, yang muncul adalah asosiasi mengenai ilmu pengetahuan, riset, inovasi, kepemimpinan intelektual, dan kontribusi akademik. Identitas mereka dibangun di atas kekuatan kognisi.

Sebaliknya, kata Strong secara leksikal justru mengarahkan pikiran pada kekuatan, ketahanan, daya tahan, atau kemampuan menghadapi tekanan. Makna tersebut berada pada ranah fisikal atau motorik.

Tentu saja pihak Unila menjelaskan bahwa Be Strong merupakan akronim dari Business, Empowerment, Services, Teaching, Research, Organizational Partnership, Network Infrastructure, serta Governance. Penjelasan tersebut sangat baik dari sisi konseptual.

Akan tetapi, dalam teori komunikasi, publik tidak pertama-tama membaca penjelasan konseptual. Publik menangkap simbol lebih dahulu daripada definisi dan pemberiannya.

Masyarakat melihat tulisan Be Strong. Masyarakat melihat tangan-tangan mengepal. Namun, sayangnya, tidak banyak orang yang mengetahui bahwa huruf “B” berarti Business, finance, investment, asset. “E berarti empowerment of human resources. “S” berarti services for community). “T” berarti (teaching; pengajaran. “R” berarti research: penelitian. “O” berarti organizational partnership). “N” (network infrastructure, dan “G” berarti governance, risk management and compliance). Dalam komunikasi visual berlaku prinsip sederhana: makna pertama yang diterima khalayak biasanya lebih kuat daripada makna kedua yang harus dijelaskan panjang lebar.

Di sinilah persoalan komunikasi muncul. Jika sebuah slogan memerlukan penjelasan akademik beberapa halaman agar dipahami, berarti slogan tersebut belum bekerja secara optimal sebagai simbol publik akademik.

Di sisi lain, semangat yang ingin dibangun Unila sesungguhnya lebih dekat kepada penguatan kualitas akademik daripada penguatan fisik. Oleh sebab itu, slogan Be Smart tampak lebih sesuai. Kata smart secara otomatis diasosiasikan dengan kecerdasan, inovasi, kreativitas, adaptasi teknologi, kemampuan memecahkan masalah, dan kualitas sumber daya manusia. Semua itu merupakan karakter yang memang menjadi tujuan utama pendidikan tinggi.

Bahkan jika refleksi pasca-krisis ingin lebih ditonjolkan, alternatif Be Careful memiliki relevansi yang tidak kalah kuat. Kata careful mengandung makna kehati-hatian, ketelitian, kecermatan, kepatuhan terhadap prosedur, serta tanggung jawab moral. Dalam dunia penelitian, kehati-hatian adalah fondasi integritas ilmiah. Dalam tata kelola universitas, kehati-hatian merupakan syarat utama terciptanya good university governance. Nilai ini justru sangat penting bagi sebuah institusi yang ingin terus memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan publik.

Tentu kritik ini bukanlah ajakan mengganti slogan hanya karena persoalan selera bahasa. Kritik ini merupakan undangan untuk mengevaluasi apakah simbol yang dipilih telah benar-benar sejalan dengan identitas yang ingin dibangun.

Universitas adalah tempat di mana segala sesuatu seharusnya dapat diperdebatkan secara ilmiah, termasuk slogan universitas itu sendiri. Tradisi akademik tidak mengenal simbol yang kebal dari kritik. Justru kemampuan menguji kembali gagasan merupakan ciri utama universitas yang sehat.

Tidak ada yang salah dengan semangat menjadi kuat. Setiap organisasi memang membutuhkan ketangguhan. Namun, kekuatan yang paling dibutuhkan perguruan tinggi bukanlah kekuatan mengepalkan tangan, melainkan kekuatan membuka pikiran. Kepalan tangan dapat menjadi simbol keberanian. Tetapi pikiran yang terbuka adalah simbol peradaban.

Universitas yang besar tidak dikenang karena “ototnya”. Universitas besar dikenang karena ide-idenya.

Mungkin sudah saatnya identitas simbolik perguruan tinggi lebih menonjolkan kecerdasan daripada kekuatan. Sebab pada akhirnya, masa depan sebuah universitas tidak ditentukan oleh seberapa kuat ia tampak, melainkan oleh seberapa cerdas ia berpikir. Be careful. Telunjuk kanan teracung. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *