Neraca Perdagangan Lampung Cetak Surplus US$251,32 Juta pada Mei 2026

Bandar Lampung (Terdidik.id) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung kembali melaporkan kinerja positif perdagangan luar negeri Provinsi Lampung. Pada Mei 2026, Lampung sukses mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$251,32 juta. Hasil ini menunjukkan ketangguhan sektor perdagangan internasional Lampung di tengah tantangan ekonomi global.

BPS mencatat nilai ekspor Provinsi Lampung sepanjang Mei 2026 menembus angka US477,52 juta. Meski secara tahunan (year-on-year) angka ini mengalami penurunan 15,53 persen dibandingkan Mei 2025 yang mencapai US565,33 juta, volume perdagangan Lampung tetap menunjukkan gairah positif. Secara kumulatif (cumulative-to-cumulative), total ekspor selama Januari–Mei 2026 mencapai US$2.362,99 juta.

Pelaku usaha di Lampung masih menjadikan pelabuhan lokal sebagai pintu utama pengiriman barang. Sekitar 82,20 persen atau senilai US$1.942,32 juta dari total ekspor kumulatif Januari–Mei 2026 keluar melalui pelabuhan di Provinsi Lampung, sementara sisanya dikirim melalui pelabuhan di luar provinsi.

Dominasi Lemak dan Minyak Hewan/Nabati

Amerika Serikat, Tiongkok, dan Belanda menjadi tiga tujuan utama ekspor Lampung selama periode Januari–Mei 2026. Amerika Serikat menyerap US344,26 juta (14,57 persen), Tiongkok mengimpor US304,23 juta (12,87 persen), dan Belanda mendatangkan US$224,70 juta (9,51 persen).

Lemak dan Minyak Hewan/Nabati tetap menjadi primadona dengan pangsa pasar mencapai 43,46 persen atau senilai US$1.026,96 juta. Berikut daftar tiga komoditas ekspor terbesar periode Januari–Mei 2026:

  • Lemak dan Minyak Hewan/Nabati: US$1.026,96 juta (43,46%)
  • Bahan Bakar Mineral: US$386,32 juta (16,35%)
  • Kopi, Teh, dan Rempah-Rempah: US$313,02 juta (13,25%)

Tren Impor yang Menurun

Dari sisi impor, Provinsi Lampung mencatat nilai US226,21 juta pada Mei 2026. Angka ini naik 27,62 persen secara y-on-y jika dibandingkan Mei 2025. Namun, secara kumulatif Januari–Mei 2026, nilai impor justru turun drastis sebesar 26,98 persen menjadi US715,47 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$979,84 juta.

Jerman menempati posisi pertama negara asal impor dengan nilai US156,09 juta (21,82 persen), dengan fokus pada komoditas kapal dan struktur terapung.

Amerika Serikat menyusul di posisi kedua dengan nilai US132,55 juta (18,53 persen), terutama untuk produk kereta api dan trem. Australia berada di urutan ketiga dengan nilai US$76,36 juta (10,67 persen) yang didominasi oleh binatang hidup. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *