Prof. Dr. Sudjarwo, MS
Guru Besar Universitas Malahayati
“Wani piro entuk opo” adalah ungkapan Jawa yang secara bebas dapat dimaknai sebagai “berani berapa, dapat apa”. Ungkapan ini sebenarnya bukan sekadar sindiran terhadap praktik transaksional, melainkan cermin dari cara berpikir yang perlahan tumbuh dalam kehidupan masyarakat: keberanian untuk mengambil sikap sering kali diukur dari keuntungan yang akan diperoleh. Dalam konteks kekinian, ungkapan tersebut terasa semakin relevan karena hampir setiap proses pemilihan apapun, baik dalam ruang sosial, organisasi, komunitas, bahkan perguruan tinggi; maupun kehidupan publik, tidak selalu berlangsung semata-mata berdasarkan pertimbangan kualitas, integritas, dan kepentingan jangka panjang.
Pemilihan pada dasarnya merupakan mekanisme untuk menentukan siapa atau apa yang dianggap paling layak menerima kepercayaan. Namun, ketika pilihan mulai dipengaruhi oleh kepentingan sesaat, ukuran kelayakan dapat bergeser. Orang tidak lagi bertanya siapa yang paling mampu, paling jujur, atau paling bertanggung jawab, melainkan siapa yang paling menguntungkan. Akibatnya, proses memilih kehilangan makna substantifnya. Pilihan menjadi semacam transaksi, sementara kepercayaan berubah menjadi komoditas yang dapat ditukar dengan imbalan tertentu.
Fenomena seperti ini sesungguhnya tidak selalu hadir dalam bentuk yang terang-terangan. Ia dapat muncul secara halus melalui pemberian fasilitas, janji keuntungan, kedekatan personal, bantuan sesaat, atau berbagai bentuk pertimbangan lain yang membuat seseorang merasa memiliki alasan untuk memilih bukan berdasarkan kualitas. Di tengah kehidupan yang semakin pragmatis, pertimbangan semacam itu mudah dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Bahkan, ada kecenderungan untuk menganggap bahwa selama seseorang memperoleh manfaat, persoalan mengenai bagaimana pilihan tersebut dibuat menjadi tidak terlalu penting.
Masalahnya, keputusan yang lahir dari kepentingan sesaat hampir selalu memiliki konsekuensi yang lebih panjang daripada keuntungan yang diterima. Ketika seseorang dipilih bukan karena kapasitasnya, tetapi karena adanya pertukaran kepentingan, maka kualitas hasil pemilihan menjadi taruhan. Orang yang memperoleh posisi dapat bekerja di bawah standar, tidak memiliki kemampuan memadai, atau lebih sibuk mempertahankan kepentingan kelompok yang mendukungnya daripada memenuhi tanggung jawab yang melekat pada posisi tersebut. Pada akhirnya, masyarakat sendiri yang menanggung akibatnya.
Kondisi kekinian semakin memperkuat persoalan tersebut karena masyarakat hidup dalam lingkungan informasi yang sangat cepat. Penilaian terhadap seseorang sering dibentuk oleh popularitas, citra, potongan informasi, atau persepsi yang berkembang sesaat. Kualitas yang sebenarnya membutuhkan waktu untuk dibuktikan sering kalah oleh kemampuan membangun kesan. Akibatnya, yang terlihat baik belum tentu benar-benar baik, sementara yang memiliki rekam jejak kuat tetapi tidak pandai membangun citra dapat kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan.
Di sinilah ungkapan “wani piro entuk opo” perlu dibaca secara lebih luas. Persoalannya bukan semata-mata tentang uang atau materi, tetapi tentang mentalitas pertukaran kepentingan dalam menentukan pilihan. Ketika setiap keputusan selalu dihitung berdasarkan keuntungan pribadi, maka kepentingan bersama perlahan tersisih. Pemilihan tidak lagi menjadi sarana mencari yang terbaik, melainkan menjadi arena mencari siapa yang paling mampu memberikan keuntungan kepada pihak tertentu.
Padahal, masyarakat yang sehat membutuhkan keberanian memilih berdasarkan ukuran yang lebih panjang. Keberanian itu berarti berani menolak keuntungan sesaat apabila harus mengorbankan kualitas. Berani mengatakan tidak terhadap pilihan yang hanya menjanjikan manfaat pribadi. Berani mempertimbangkan rekam jejak, kemampuan, integritas, serta kesanggupan mempertanggungjawabkan keputusan. Memilih dengan cara demikian mungkin tidak selalu menghasilkan keuntungan langsung, tetapi memberikan peluang lebih besar untuk memperoleh hasil yang berkualitas.
Ungkapan tersebut seharusnya tidak hanya menjadi bahan guyonan atau sindiran. Ia dapat menjadi cermin untuk melihat bagaimana masyarakat menentukan pilihan pada masa kini. Jika setiap proses pemilihan terus dibangun di atas logika “berapa yang berani diberikan dan apa yang akan diperoleh”, maka jangan heran apabila hasil yang lahir juga berada di bawah standar. Kualitas pemimpin, pengurus, wakil, maupun orang-orang yang diberi kepercayaan sangat bergantung pada kualitas pertimbangan mereka yang memilih. Karena itu, perubahan tidak cukup dimulai dari orang yang dipilih, tetapi juga dari keberanian orang-orang yang menentukan pilihan. Memilih yang terbaik mungkin tidak memberikan keuntungan seketika, tetapi merupakan investasi paling rasional untuk memastikan bahwa kepercayaan tidak berakhir menjadi penyesalan. (*)









