Kolaborasi ENP Thailand & TNWK Perkuat Konservasi

Humaniora21 Dilihat

Lampung Timur (Terdidik.id) — Tim Elephant Nature Park (ENP) Thailand bersama Tim Wilderness terjun langsung meninjau progres pembangunan di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, pada Sabtu (15/8/2026). Kunjungan lapangan ini bertujuan memastikan percepatan infrastruktur tetap sejalan dengan napas utama kawasan sebagai pusat konservasi gajah Sumatra.

Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, M.I.R., M.A., turut mendampingi rombongan. Sriyanto menegaskan, tim gabungan harus terus memantau pembangunan sarana dan prasarana agar tidak melenceng dari rencana awal.

“Kita wajib mengantisipasi setiap hambatan yang berpotensi memperlambat progres di lapangan. Namun, percepatan ini haram mengesampingkan fungsi esensial TNWK,” tegas Sriyanto, yang juga menjabat sebagai Kapoksahli Pangdam XXI/Radin Inten.

Dia memprioritaskan aspek keamanan, kelestarian ekosistem, serta kesejahteraan sosial masyarakat sekitar. Pemantauan ketat menjadi harga mati agar target pembangunan tercapai tanpa mengorbankan habitat alami satwa.

“Percepatan pembangunan di kawasan TNWK perlu tetap dilaksanakan dengan memperhatikan aspek pengamanan, kelestarian lingkungan, dan ekosistem kawasan konservasi serta kondisi sosial masyarakat sekitar,” katanya.

Sriyanto menyebut hasil peninjauan akan menjadi bahan evaluasi untuk mendukung pencapaian target pembangunan. Monitoring terhadap perkembangan pekerjaan juga akan terus dilakukan.

Rombongan peninjau internasional ini membawa sejumlah pakar. Tim ENP Thailand hadir dengan kekuatan penuh, yakni Ahmad Munawir, Saengduean Chailert, Warattada Pattarodom, Jason Aaron Jackson, Thipsuda Masith, dan Amnat Arthan. Sementara itu, Tim Wilderness bergerak di bawah komando Presiden Direktur PT Living Landscapes Indonesia, Keren Brooks, bersama Madina Firdaus, Nick Stone, Ingrid, dan Robert.

Kehadiran tim internasional ini memantik optimisme tokoh pariwisata dan budayawan Lampung, Anshori Djausal. Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Lampung tersebut mendukung penuh langkah kolaboratif ini. Menurut Anshori, Way Kambas memegang kunci penting sebagai percontohan global dalam hal pengelolaan satwa langka.

“Kita ingin dunia melihat Indonesia sukses mengembangkan dan melestarikan gajah Sumatra. Satwa ini harus terus hidup, dan gesekan dengan manusia wajib kita hentikan,” ujar Anshori saat menyoroti krusialnya mitigasi konflik satwa.

Lebih dalam, Anshori membedah potensi ekonomi dari keberadaan TNWK. Dia menaruh harapan besar agar sektor pariwisata berkelanjutan mampu mengangkat taraf hidup masyarakat di desa penyangga. Konsep ekowisata memungkinkan pelestarian alam berjalan beriringan dengan perputaran roda ekonomi warga lokal.

“Konservasi dan pariwisata itu bisa bersinergi. Satwanya kita lindungi, sementara masyarakat desa penyangga meraup manfaat ekonomi yang nyata,” tambahnya.

Sejarah mencatat, TNWK bukan sekadar taman nasional biasa. Kawasan ini bertransformasi dari bekas area Hak Pengusahaan Hutan (HPH) pada awal 1980-an menjadi Pusat Konservasi Badak dan Konservasi Gajah pertama di Indonesia. Publik juga mengingat operasi monumental “Tata Liman” pada pertengahan era 80-an, sebuah misi besar menyelamatkan kawanan gajah dari perbatasan Sumatra Selatan menuju habitat aman di Way Kambas.

Kunjungan lapangan yang berakhir pukul 16.50 WIB tersebut berjalan kondusif. Ke depan, seluruh pemangku kepentingan sepakat untuk terus mengawal ketat tata kelola TNWK. Harmonisasi antara kelestarian ekosistem hutan dan pengembangan fasilitas wisata edukasi akan terus menjadi sorotan utama demi menjaga warisan keanekaragaman hayati kebanggaan Provinsi Lampung. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *