Prof. Dr. Sudjarwo, M.S
Guru Besar Universitas Malahayati
“Lanjak ke” adalah ungkapan yang sangat akrab di telinga masyarakat Palembang khususnya dan Sumatera Selatan pada umumnya. Secara harfiah, ungkapan ini berarti “sudah terlanjur teruskan saja”, lalu diikuti sikap untuk tetap melanjutkan apa yang sedang dijalani meskipun risiko dan ketidakpastian menghadang di depan. Dalam bahasa lain, ungkapan ini serupa dengan pepatah “terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian”. Ia lahir dari pengalaman hidup masyarakat yang sering kali harus berhadapan dengan keadaan sulit, ketika pilihan yang tersedia semakin sempit dan jalan mundur terasa tidak mungkin lagi ditempuh.
Pada mulanya, “lanjak ke” mungkin hanya terdengar sebagai ungkapan sehari-hari yang sederhana. Namun jika dicermati lebih dalam, ia mencerminkan sebuah cara berpikir yang terbentuk dari kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang tidak selalu memberikan ruang bagi rakyat untuk memilih. Ketika keadaan sudah terlanjur berjalan, ketika keputusan besar telah dibuat tanpa melibatkan banyak suara dari bawah, rakyat sering kali hanya bisa menyesuaikan diri dan melanjutkan perjalanan yang sudah ditentukan oleh keadaan.
Fenomena ini tampaknya semakin banyak terlihat dalam kehidupan berbangsa saat ini. Di tengah situasi yang dirasakan semakin tidak jelas arahnya oleh sebagian masyarakat, muncul perasaan bahwa berbagai keputusan besar terus berjalan tanpa memberikan kepastian yang memadai mengenai masa depan. Harga kebutuhan pokok yang terus bergerak, biaya hidup yang meningkat, lapangan pekerjaan yang terasa semakin sempit, serta kesenjangan sosial yang masih menjadi kenyataan sehari-hari menciptakan suasana ketidakpastian yang panjang. Masyarakat terus berusaha menyesuaikan diri, tetapi sering kali merasa bahwa mereka hanya menjadi penonton dari perubahan yang berlangsung.
Pada kondisi seperti itu, rakyat sering berada pada posisi “lanjak ke”. Mereka tetap menjalani kehidupan sehari-hari bukan karena semuanya baik-baik saja, melainkan karena tidak ada pilihan lain yang realistis. Mereka terus bekerja, terus berusaha, terus bertahan, dan terus berharap bahwa keadaan akan membaik. Harapan menjadi modal yang kadang lebih besar daripada kepastian itu sendiri. Banyak keluarga menyusun rencana masa depan dengan penuh kehati-hatian karena tidak yakin apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan. Namun hidup harus tetap berjalan.
Prinsip “lanjak ke” sesungguhnya memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia menunjukkan daya tahan masyarakat yang luar biasa. Tidak semua bangsa memiliki kemampuan bertahan menghadapi tekanan yang panjang. Ketika menghadapi kesulitan, masyarakat tetap mencari cara untuk hidup, tetap menjaga keluarga, tetap membantu sesama, dan tetap berusaha membangun masa depan. Sikap ini menunjukkan ketangguhan yang lahir dari pengalaman panjang menghadapi berbagai krisis dan perubahan zaman.
Di sisi lain, prinsip ini juga dapat menjadi tanda bahwa masyarakat sedang berada dalam posisi yang sedang tidak baik-baik saja. Sebab sebuah bangsa tidak seharusnya terus-menerus bergantung pada kemampuan rakyat untuk bertahan. Ketahanan masyarakat memang penting, tetapi lebih penting lagi adalah hadirnya arah yang jelas, kebijakan yang memberikan kepastian, dan kondisi yang memungkinkan rakyat membuat pilihan secara lebih bebas dan rasional. Jika terlalu lama hidup dalam situasi “lanjak ke”, masyarakat bisa kehilangan keyakinan bahwa masa depan dapat direncanakan dengan baik.
Ketika orang terus melangkah hanya karena tidak ada jalan lain, maka yang tumbuh bukan optimisme, melainkan keterpaksaan. Ketika rakyat terus menerima keadaan hanya karena tidak memiliki alternatif, maka yang berkembang bukan partisipasi, melainkan kepasrahan. Dalam jangka panjang, keadaan seperti ini dapat mengikis kepercayaan sosial yang menjadi fondasi penting bagi kemajuan sebuah negara. Masyarakat mungkin tetap bergerak, tetapi gerakan itu lebih didorong oleh kebutuhan untuk bertahan daripada keyakinan terhadap arah perjalanan yang sedang ditempuh.
Karena itu, “lanjak ke” seharusnya tidak dipahami hanya sebagai sikap menerima nasib. Ia juga dapat menjadi pengingat bahwa rakyat memiliki batas kemampuan dalam menanggung ketidakpastian. Ketangguhan tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan masalah terus berlangsung. Semangat bertahan harus diimbangi dengan upaya menghadirkan arah yang lebih jelas, tata kelola yang lebih baik, dan masa depan yang lebih dapat diprediksi. Rakyat membutuhkan harapan yang nyata, bukan sekadar ajakan untuk bersabar tanpa ujung.
Di balik kesederhanaan kalimat itu tersimpan pesan yang mendalam. Ia menggambarkan keberanian untuk terus berjalan ketika keadaan sulit, tetapi sekaligus menyiratkan harapan agar suatu hari nanti perjalanan tidak lagi dilakukan karena terpaksa. Sebab sebuah bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang rakyatnya terus berkata “lanjak ke”, melainkan bangsa yang mampu memberikan alasan kuat bagi rakyatnya untuk melangkah dengan keyakinan, dengan tujuan yang jelas, dan dengan keyakinan bahwa setiap langkah yang diambil benar-benar mengarah pada masa depan yang lebih baik. Dengan demikian, “lanjak ke” tidak lagi menjadi simbol keterpaksaan, melainkan semangat bertahan untuk mengarungi badai kehidupan untuk menuju situasi yang lebih baik, semoga.
Salam Waras.












