Smartphone Sebagai Senjata Utama Bela Negara Era Digital

Humaniora32 Dilihat

Bandar Lampung (Terdidik.id) — Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, melontarkan peringatan tegas kepada ribuan mahasiswa baru Universitas Lampung (Unila). Kristomei menyoroti bahaya laten ruang digital yang kini sangat rentan terhadap penyebaran informasi palsu atau hoaks. Ia menegaskan bahwa kemampuan mahasiswa menyaring arus informasi memegang peranan krusial sebagai wujud nyata bela negara pada era modern.

Perkembangan teknologi yang begitu masif telah menyulap ruang maya menjadi medan pertempuran baru. Medan ini memiliki kekuatan destruktif yang mampu mengacak-acak kondisi sosial dan mengancam ketahanan suatu bangsa. Jenderal bintang dua tersebut menyampaikan pesan tajam ini saat ia memberikan pembekalan bertajuk “Bela Negara Jaman Now”. Pembekalan strategis ini menjadi agenda puncak dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unila 2026 yang berlangsung di Gedung Serba Guna Unila, Selasa (11/8/2026).

Sebanyak 9.450 mahasiswa baru menyimak arahan Sang Pangdam dengan saksama. Pihak rektorat membagi peserta ke dalam dua format, yakni 4.000 mahasiswa hadir langsung di lokasi, sedangkan 5.450 mahasiswa lainnya menyimak pemaparan melalui siaran daring.

Kristomei mengajak para akademisi muda untuk merombak total cara pandang mereka tentang konsep pertahanan negara. “Pemahaman mengenai bela negara harus berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Bela negara zaman sekarang bukan lagi semata-mata tentang senapan dan tank. Medan perjuangan telah berubah total. Perang informasi kini berada tepat dalam genggaman kita melalui telepon seluler,” tegas Pangdam di hadapan ribuan peserta.

Untuk membakar semangat para peserta, Kristomei menambahkan pesan khusus mengenai peran strategis pemuda. “Kalian para mahasiswa adalah ujung tombak pertahanan bangsa saat ini. Jangan pernah biarkan jempol kalian menghancurkan persatuan negeri ini melalui penyebaran hoaks atau ujaran kebencian di media sosial!” seru Kristomei dengan nada penuh penekanan.

Lebih lanjut, ia menuntut mahasiswa untuk menajamkan nalar kritis saat mengonsumsi informasi. Generasi muda pantang mempercayai atau menyebarkan begitu saja setiap isu viral di media sosial tanpa melalui proses verifikasi ketat. Masyarakat harus rajin membaca informasi secara utuh, berani bertanya, mengecek silang sumber berita, dan memahami konteks sebenarnya. Langkah-langkah preventif ini sangat ampuh untuk mencegah masyarakat terjerumus ke dalam jurang disinformasi.

Selain mengupas tuntas ancaman digital, Kristomei juga menanamkan kembali lima nilai dasar bela negara. Nilai-nilai abadi tersebut mencakup rasa cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, kesetiaan kepada ideologi Pancasila, kerelaan berkorban, serta kepemilikan kemampuan awal bela negara.

Sang Pangdam menekankan bahwa tugas membela negara tidak hanya jatuh ke pundak prajurit TNI atau aparat keamanan semata. Setiap warga negara memegang porsi tanggung jawab yang sama sesuai keahlian masing-masing.

“Apa pun pekerjaan dan keahlian kita, selama kita memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara, hal itu merupakan wujud nyata bela negara,” tambahnya.

Oleh karena itu, Kristomei mendorong kaum intelektual muda ini untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat pencipta karya positif. Ruang digital harus berubah wujud dari sekadar tempat menerima informasi menjadi panggung raksasa untuk berkarya, menebar gagasan konstruktif, merajut komunikasi, dan merekatkan persatuan bangsa.

Acara pembekalan bergengsi ini turut mendapat dukungan penuh dari para petinggi kampus dan militer. Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Lusmelia Afriani Dea, IPM., ASEAN Eng., hadir langsung mendampingi Pangdam bersama jajaran Wakil Rektor Unila. Asintel Kasdam XXI/Radin Inten Kolonel Inf Erwin A.T. Wiyono, A., S.T., M.Tr. (Han) juga tampak mengawal jalannya acara hingga selesai. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *