Wisuda: Pintu Keluar atau Masuk?

Sudut Pandang7 Dilihat

Prof. Dr. Sudjarwo, MS
Guru Besar Universitas Malahayati

Beberapa waktu lalu, atas tugas yang melekat sebagai Guru Besar, maka harus menghadiri acara wisuda yang dilaksanakan oleh institusi. Entah sudah berapa kali dalam hidup ini menghadiri acara seperti ini. Peran yang dimainkanpun silih berganti: namun entah kali ini terbersit dalam benak pikiran dengan satu pertanyaan seperti yang menjadi judul tulisan ini. Hal ini terpantik oleh diskusi maya dengan seorang jurnalis senior yang sangat concent terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara; saat sambil bengong menyimak langkah demi langkah rangkaian acara yang digelar mewah tetapi hikmat itu.

Wisuda sering dipahami sebagai puncak perjalanan pendidikan: sebuah seremoni yang menandai keberhasilan seseorang menyelesaikan studi dan memperoleh pengakuan akademik. Namun, ketika wisuda berlangsung di tengah kondisi negeri yang sedang tidak baik-baik saja, maknanya menjadi jauh lebih kompleks. Di satu sisi, wisuda dapat dipandang sebagai pintu keluar dari dunia pendidikan menuju kehidupan sosial yang sesungguhnya. Di sisi lain, ia justru merupakan pintu masuk menuju tanggung jawab yang lebih besar. Pertanyaan tersebut membawa kita pada persoalan yang tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan menyentuh pertanyaan filosofis tentang manusia, pengetahuan, kebebasan, tanggung jawab, dan masa depan.

Pandangan filsafat kontemporer, pendidikan tidak lagi cukup dipahami sebagai proses transfer pengetahuan atau pencapaian gelar. Pendidikan berkaitan dengan pembentukan subjek yang mampu memahami dunia sekaligus mengambil posisi di dalamnya. Karena itu, wisuda bukanlah titik akhir dari proses menjadi manusia terdidik. Ia merupakan momen ketika seseorang berhadapan dengan dunia yang sesungguhnya: dunia yang penuh ketidakpastian, ketimpangan, konflik kepentingan, krisis ekologis, perkembangan teknologi, dan berbagai persoalan sosial yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana. Gelar yang diterima pada hari wisuda tidak otomatis menjadikan seseorang mampu menjawab persoalan tersebut. Gelar hanya menunjukkan bahwa seseorang telah melewati satu tahap pembentukan diri.

Karena itu, menyebut wisuda sebagai pintu keluar memiliki kebenaran yang terbatas. Memang ada sesuatu yang ditinggalkan: ruang kelas, jadwal kuliah, tugas akademik, ujian, dan rutinitas sebagai mahasiswa. Akan tetapi, yang sesungguhnya ditinggalkan bukanlah pendidikan. Pendidikan justru dibawa keluar dari kampus dan diuji dalam kenyataan. Pengetahuan yang selama ini berada dalam buku, ruang diskusi, laboratorium, dan penelitian kini harus berhadapan dengan kehidupan konkret. Di sinilah pendidikan memperoleh makna etisnya. Pengetahuan tidak berhenti pada kemampuan mengetahui, tetapi harus berkembang menjadi kemampuan mempertimbangkan, memilih, dan bertindak.

Perspektif filsafat kontemporer, memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses pembentukan. Tidak ada identitas yang benar-benar selesai. Seseorang menjadi dirinya melalui pilihan, pengalaman, relasi dengan orang lain, serta keterlibatannya dalam dunia. Dengan demikian, wisuda sebenarnya bukan pernyataan bahwa seseorang telah selesai menjadi sesuatu, melainkan pengingat bahwa proses menjadi manusia baru memasuki tahap lain. Jika kampus adalah ruang pembentukan kesadaran, maka masyarakat adalah ruang pengujian kesadaran tersebut.

Kondisi negeri yang tidak baik-baik saja membuat makna itu semakin kuat. Wisudawan tidak memasuki dunia yang kosong dan netral. Mereka memasuki masyarakat yang memiliki persoalan nyata: kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, lemahnya kepercayaan publik, kesenjangan kesempatan, serta berbagai bentuk krisis yang memengaruhi kehidupan banyak orang. Dalam situasi seperti itu, pendidikan tinggi menghadapi pertanyaan mendasar: untuk apa pengetahuan diperoleh? Jika pendidikan hanya digunakan untuk meningkatkan posisi pribadi, mendapatkan pekerjaan, atau memperoleh status sosial, maka wisuda menjadi pintu keluar menuju kepentingan individual. Tetapi jika pengetahuan dipahami sebagai tanggung jawab sosial, wisuda berubah menjadi pintu masuk menuju keterlibatan.

Pada posisi ini kebebasan menjadi persoalan penting. Lulusan perguruan tinggi memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya, tetapi kebebasan tidak pernah benar-benar terpisah dari konsekuensi. Setiap keputusan memiliki dampak terhadap orang lain dan lingkungan sekitar. Semakin besar pengetahuan dan kemampuan seseorang, semakin besar pula kemungkinan dampak yang dapat ditimbulkannya. Karena itu, kebebasan akademik seharusnya berjalan bersama tanggung jawab moral. Seorang sarjana tidak harus menjadi penyelamat masyarakat, tetapi ia memiliki kewajiban untuk tidak menggunakan pengetahuannya secara membutakan diri terhadap kenyataan.

Wisuda, dengan demikian, dapat dilihat sebagai ambang. Ia bukan pintu yang hanya memiliki satu arah. Ia adalah pintu keluar dari satu bentuk kehidupan sekaligus pintu masuk menuju bentuk kehidupan yang baru. Yang keluar adalah status sebagai mahasiswa; yang masuk adalah tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat. Yang berakhir adalah pendidikan formal; yang dimulai adalah pendidikan melalui pengalaman. Yang selesai adalah satu tahap perjalanan; yang dimulai adalah pertanyaan yang lebih berat mengenai bagaimana pengetahuan digunakan.

Makna wisuda tidak ditentukan oleh toga, ijazah, atau panggung seremoni, melainkan oleh apa yang dilakukan setelah seseorang meninggalkan ruang wisuda. Jika ilmu hanya menjadi simbol keberhasilan pribadi, wisuda memang menjadi pintu keluar. Namun, jika ilmu menjadi kesadaran untuk membaca kenyataan, keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan, dan kemauan untuk mengambil bagian dalam memperbaiki kehidupan bersama, wisuda adalah pintu masuk. Pintu itu terbuka menuju dunia yang tidak sempurna, tetapi justru karena ketidaksempurnaannya manusia terdidik dipanggil untuk terus berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab. Wisuda bukan akhir pendidikan, melainkan awal dari ujian yang sebenarnya: membuktikan bahwa pengetahuan mampu menjadi kebijaksanaan dan bahwa keberhasilan pribadi dapat menemukan maknanya dalam kehidupan bersama. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *