Bandar Lampung (Terdidik.id) – Lonjakan harga bahan bakar minyak kembali menekan kondisi perekonomian masyarakat bumi ruwa jurai pada pertengahan tahun ini. Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung mengumumkan bahwa Indeks Harga Konsumen Provinsi Lampung mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,55 persen sepanjang periode Juni 2026.
Kenaikan harga bensin secara signifikan memicu gelombang inflasi ini dan langsung memukul sektor transportasi sebagai pos pengeluaran utama warga Lampung.
BPS Provinsi Lampung dalam laporan terbarunya merinci bahwa kelompok pengeluaran transportasi mengalami inflasi tertinggi secara bulanan dengan angka mencapai 2,30 persen. Sektor transportasi ini pula yang mentransfer dampak paling masif terhadap laju inflasi umum dengan sumbangan andil sebesar 0,24 persen.
Secara komoditas, bensin mutlak menjadi biang kerok utama pergerakan harga karena menyumbang andil inflasi bulanan sebesar 0,21 persen, mengungguli pergerakan harga barang kebutuhan pangan masyarakat.
Selain bensin yang meroket, masyarakat Lampung juga menghadapi kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran lain. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,89 persen dengan andil kontribusi 0,05 persen.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyusul di posisi berikutnya dengan inflasi sebesar 0,61 persen serta andil kontribusi 0,04 persen. Untuk komoditas pangan, bawang merah memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen, tomat sebesar 0,05 persen, bawang putih sebesar 0,04 persen, dan minyak goreng mengekor dengan andil kontribusi sebesar 0,02 persen.
Di tengah guncangan harga energi, beberapa komoditas pangan beruntung bergerak turun sehingga mampu menahan laju inflasi bulanan agar tidak melompat lebih jauh. Cabai merah tampil sebagai peredam utama dengan menyumbang andil deflasi bulanan terbesar hingga mencapai minus 0,03 persen.
Komoditas lain seperti telur ayam ras, cabai rawit, daging ayam ras, serta makanan olahan nugget juga ikut meringankan beban konsumen dengan kompak mencatatkan andil deflasi masing-masing sebesar minus 0,02 persen.
Apabila menelaah pergerakan harga secara tahunan, Provinsi Lampung mengantongi angka inflasi sebesar 2,46 persen pada Juni 2026 jika kita membandingkannya dengan Juni 2025. Angka inflasi tahunan ini merangkak lebih tinggi daripada capaian pada bulan yang sama tahun sebelumnya, di mana inflasi tahunan Juni 2025 kala itu hanya menyentuh 2,27 persen.
Secara tahunan, bensin kembali memperlihatkan taringnya sebagai penyumbang andil inflasi terbesar kedua dengan angka kontribusi 0,23 persen, mengekor tepat di bawah komoditas emas perhiasan yang mengemas andil inflasi tahunan tertinggi sebesar 0,43 persen. Komoditas minyak goreng dan daging ayam ras turut mendongkrak inflasi tahunan dengan andil masing-masing 0,19 persen, lalu bawang merah menyusul dengan andil kontribusi 0,16 persen.
Berdasarkan kelompok pengeluaran tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menguasai andil inflasi terbesar dengan kontribusi mencapai 1,75 persen serta mengalami inflasi sebesar 5,19 persen. Sementara kelompok perawatan pribadi mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 9,91 persen dengan andil kontribusi 0,63 persen.
Beruntung, kelompok pendidikan menjadi penyelamat dengan mencetak deflasi tahunan terdalam sebesar 17,93 persen serta menyumbang andil deflasi hingga 1,18 persen. Penurunan tarif Sekolah Menengah Atas dengan andil minus 0,84 persen dan Sekolah Menengah Pertama sebesar minus 0,39 persen menjadi penahan utama pembengkakan inflasi tahunan, bersama makanan hewan peliharaan sebesar minus 0,05 persen, telur ayam ras sebesar minus 0,03 persen, dan celana panjang jeans pria sebesar minus 0,02 persen.
BPS Provinsi Lampung juga membagi pergerakan harga konsumen ini ke dalam empat wilayah cakupan secara detail. Kabupaten Mesuji mencatatkan inflasi tahunan tertinggi di Lampung sebesar 3,25 persen dengan nilai IHK mencapai 117,23. Kota Metro menempati posisi berikutnya dengan inflasi tahunan sebesar 3,07 persen dan nilai IHK 110,73, lalu Kabupaten Lampung Timur menyusul dengan membukukan inflasi tahunan 2,93 persen dan nilai IHK 115,58.
Sebaliknya, Kota Bandar Lampung menjadi daerah yang paling tenang dengan catatan inflasi tahunan terendah, yakni hanya sebesar 2,08 persen dengan nilai IHK sebesar 110,71. Adapun untuk skala pergerakan bulanan, Kabupaten Lampung Timur mengalami lonjakan inflasi bulanan tertinggi mencapai 0,90 persen, sedangkan Kota Metro mencatatkan inflasi bulanan terendah di angka 0,29 persen. (**)












